CULTURAL/HERITAGE

Belajar Aksara Nusantara di Acaraki

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby

Bagi Jony Yuwono, pemilik Acaraki the Art of Jamu, membangun legacy jauh lebih penting ketimbang hanya sekadar viral namun setelah itu pudar.

Ia mengungkapkan hal tersebut kepada Direktur Utama PT Banten West Java (BWJ) Poernomo Siswoprasetijo yang didampingi tim dari BWJ, yakni Chesa Rachmawati, Asfarina Riandra, dan Manuel C Kumaat di Acaraki the Art of Jamu yang terletak di kawasan destinasi wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa (4/8/2026).

Ya, Jony mengungkapkan bahwa sejak 2018 silam dirinya membangun Acaraki hingga kini dan ia meyakini Acaraki kedepannya akan terus berkembang.

Jony mengatakan, kali pertama Acaraki ada di Kota Tua yang kemudian Acaraki pun mulai diminati masyarakat, bahkan terus berkibar hingga ke luar negeri.

Dia mengemukakan bahwa minum jamu pada masa kini tak melulu harus pahit rasanya sehingga anak muda, baik kalangan milenial dan generasi Z tetap bisa menikmati warisan tradisional Nusantara ini.

Adapun PT BWJ selama ini dikenal sebagai pengelola destinasi wisata Tanjung Lesung yang ada di Pandeglang, Banten. Jony mengatakan bahwa cita rasa minum jamu bisa diketahui dari aroma yang dicium lewat hidung.

Untuk sekadar diketahui, kawasan Kota Tua adalah destinasi wisata favorit masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di Jabodetabek. 

Wisatawan mancanegara juga kerap berkunjung ke Kota Tua sehingga destinasi wisata ini kerap dikunjungi traveler asing ketika lagi menikmati traveling di Jakarta.

Menariknya pada Selasa (4/8/2026), berdasarkan pengamatan PATADaily.id, tampak turis asing banyak yang berkunjung ke Acaraki yang ada di Kota Tua

Pada kesempatan ini, Jony memperkenalkan berbagai menu dan sejumlah varian jamu yang ada di Acaraki kepada Poernomo dan tim PT BWJ.

Jony mengemukakan bahwa manfaat jamu turun-temurun diakui bagus untuk kesehatan orang Indonesia. "Sudah sejak lama jamu disukai orang Indonesia," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa jamu berasal dari bahasa Jawa kuno, yakni Jampi yang artinya doa, dan Usodo yang berarti kesehatan sehingga jamu adalah doa untuk kesehatan.

Bahkan, lanjutnya, kata menjamu pada masa lampau hingga kini menjadi penuh makna lantaran ketika itu raja maupun kaum bangsawan akan menjamu dengan hidangan terbaik dan upaya memberikan yang terbaik untuk tamunya.

"Menjamu begitu penting sehingga jamu pun menjadi minuman yang penting untuk kesehatan," terangnya. Tampak Poernomo dan tim PT BWJ antusias bisa langsung menikmati jamu kekinian di Acaraki.

Jony membeberkan bahwa Acaraki sudah ada di Brunei Darussalam. Rencananya, lanjutnya, Acaraki juga akan ada di Singapura sebab respons masyarakat Singapura positif terhadap jamu dan menyambut baik Acaraki ada di Negeri Singa itu.

Tak hanya itu, Jony yang rupanya seorang pencinta budaya Nusantara ini juga mengajak Poernomo dan tim PT BWJ untuk ikut melestarikan budaya Nusantara.

Jony pun membuka kesempatan untuk melakukan kolaborasi antara Acaraki dengan PT BWJ. Ia menuturkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan Shadow of The Light, yakni melestarikan, baik itu makna dan filosofi yang terkandung dalam budaya Nusantara, utamanya wayang kulit.

Jadi, lanjutnya, melestarikan wayang kulit bukan hanya sebatas fisik wayang kulit saja, namun nilai-nilai yang kuat akan pesan moral bagi orang Indonesia yang ada dalam wayang kulit.

Dan, seiring perkembangan zaman, yaitu adanya kecanggihan teknologi, maka pentas wayang kulit pun tidak menutup kemungkinan juga menggunakan teknologi.

"Yang penting adalah bagaimana kita melestarikan nilai-nilai yang ada dalam wayang kulit sehingga dengan story telling maka akan tersampaikan pesan maupun filosofi wayang kulit bagi kita, termasuk generasi muda," ujarnya.

Rupaya Jony juga mengajak Poernomo dan tim BWJ, yakni Chesa, Asfarina dan Manuel untuk lebih dekat dengan batik. Ya, Jony juga memberikan kesempatan langsung untuk Poernomo dan tim BWJ tersebut untuk belajar membatik.

Poernomo dan tim BWJ senang mendapat tawaran dari Jony untuk belajar membatik di Acaraki. Mereka terlihat takjub dengan koleksi budaya Nusantara yang dimiliki Jony. 

Menariknya Jony terlhat detail memberikan penjelasan mengenai makna maupun filosofi yang bagus yang terkandung dalam wastra Nusantara ini. Ia menuturkan bahwa orang yang datang ke Acaraki di PIK 2 juga mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya Indonesia sehingga mereka tidak hanya sebatas minum jamu saja di sana.

Ia juga mengutarakan bahwa batik tidak hanya sekadar untuk busana melainkan juga bisa produk lainnya misalnya untuk produk tas dan lainnya. 

Tak ada yang mengira Jony begitu mencintai budaya Nusantara sehingga dirinya tak segan menularkan apa yang ia ketahui kepada orang lain sebagai bagian untuk pelestarian budaya negeri ini. Ia pun mengajak Poernomo dan tim BWJ untuk mengenal lebih dekat aksara Nusantara lantaran negeri ini kaya akan aksara, seperti aksara Jawa, aksara Bali dan lainnya.

"Untuk belajar aksara Nusantara bisa melalui revitalisasiaksara.com," katanya.

Budaya dan tradisi sering kali diperlakukan bak benda pusaka; dikagumi, disimpan, dan dirawat, namun asing dalam keseharian. Di tengah laju modernitas, tantangan  terbesar kita  bukan  lagi  sekadar merawat peninggalan  masa  lalu, melainkan memberi "daya hidup" baru agar tradisi mampu beradaptasi dan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akarnya.  

Setelah sukses merevitalisasi jamu melalui konsep jamu experience cafe , Acaraki, pionir kafe jamu dengan tekhnik kontemporer, kini melangkah lebih jauh. Melalui proyek revitalisasi, Acaraki, menghadirkan sebuah video musik bertema wayang kulit yang berjudul "Shadow of  The  Light".  

Langkah  ini  bukan  sekadar  pelestarian  simbolis,  melainkan  sebuah metamorfosis  budaya  yang  utuh untuk  menghidupkan  kembali  esensi  "per-Jamu-an" Nusantara  yang  memadukan  kelezatan  kuliner, keindahan  musik,  tarian,  dan  seni pertunjukan.

Karya ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi lama dapat beradaptasi dan tampil memikat dalam balutan modernitas tanpa kehilangan akarnya. Selain Shadow of The Light, Acaraki juga memprakarsai beberapa project revitalisasi lain, seperti Aksara  Nusantara, Angklung Selayang, Arsir  Batik, Kaligrafi Aksara Nusantara, Kereta EV Kencana dan Angklung Elektronik.  

Kolaborasi Seni dan Mahakarya Lintas Budaya  

Shadow of The Light adalah musik video dengan tema wayang. Acaraki sengaja memilih wayang sebagai tema utama karena wayang adalah salah satu warisan budaya tak benda Dunia dari Indonesia yang wajib dilestarikan. 

Dibalik kesuksesannya, "Shadow of The Light" melewati  proses  produksi  yang  matang  selama hampir 1 tahun. Berawal dari ide Jony Yuwono, inisiator, produser eksekutif sekaligus original storywriter Shadow of The Light. Ia kemudian menggandeng komposer musik berbakat Elwin Hendrijanto serta rumah produksi Batavia Pictures di bawah arahan sutradara Tono Wisnu.  

"Konsep musik Shadow of The Light menggabungkan kemegahan musik orkestra dengan gamelan lengkap (kendang, bonang, saron), serta perpaduan gaya vokal pop dari penyanyi Vera Anastasia dengan cengkok sinden Retno Pangestu," ucap Jony yang juga pemilik Acaraki the Art of Jamu dalam keterangan resmi pada akhir pekan ini.

Liriknya pun mengintegrasikan Wangsalan Jawa dengan lirik berbahasa Inggris. Video musik Shadow of The Light menunjukan detail proses pembuatan wayang kulit yang menunjukkan kekuatan craftmanship Indonesia, dari kulit sapi yang dikeringkan, dikerok utk dibersihkan dan ditatah.

Shadow of The Light juga menunjukkan detail penampilan wayang kulit tradisional yang tidak banyak diketahui orang, di mana penonton hanya melihat sepetak layar dan bayangan dari wayang, dalang, gamelan dan sinden semua bersembunyi di balik layar.  

Dalam video musik ini , juga mempelihatkan berbagai elemen dalam  pertunjukan wayang kulit seperti komposisi gamelan yang lengkap (kendang, bonang, saron, dan lain lain) dan para sinden.

Apresiasi dan Pengakuan Internasional  

Meski mengangkat tema lokal yang kental, "Shadow of The Light" telah berhasil mencuri perhatian dunia dengan meraih banyak penghargaan dan menang di berbagai festival film internasional, antara lain Liverpool Film Festival (2024), Global Music Awards (Taiwan 2024) , Los Angeles Movie & Music Video Awards (2024), Goa Short Film Festival ( India 2024) , New Harvest Film Festival (2024), Best Shorts Competition (Amerika Serikat 2024) ,Bangkok Movie Awards (2024), New York International Film Awards™ - NYIFA (2024), UNICA KOREA International Film Festival (2024) , SEAiff (Australia 2024) , International Thai Film Festival (2024), International Film Festival The Hague  (2024) , Experimental, Dance Music  Film Festival (Los Angeles 2024), London Music Video Festival (2024), PopCon International Film Festival (Amerika Serikat 2025), Flickers' Rhode  Island  International  Film  Festival  (Amerika  Serikat  2025),  Golden Harvest Film Festival (Jepang 2025), BonDance International Film Festival (Jepang 2025), 7th Mosaic International Film Festival of Arts and Culture (Canada 2025), Japan World's Tourism Film Festival (2025) dan masih banyak lagi.  

Menonton Sambil Berdonasi untuk Masa Depan Wayang  

Sebagai  komitmen  nyata  terhadap keberlanjutan budaya, Acaraki Journey mengajak masyarakat luas untuk ikut berkontribusi. Untuk setiap satu "Like" pada video "Shadow of The Light" di platform YouTube, Acaraki akan mendonasikan Rp1.000 (hingga maksimal Rp1 miliar). Seluruh dana yang dikumpulkan dari gerakan ini akan disalurkan ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia khusus untuk mendanai penelitian dan pengembangan wayang kulit.  

Mari  ikut  ambil  bagian  dalam  gerakan  budaya  ini  dengan  menonton  dan  memberikan dukungan langsung untuk bersama sama kita ”men-Jamu” dunia dan menghidupkan kembali warisan budaya Nusantara. Saksikan Video dan Music ”Shadow of The Light” melalui link YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=ODFS0Vqgkqk.

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side