PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Orang-orang Manggarai Flores yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Manggarai Jabodetabek (IKAMADA) akan menggelar Festival Budaya Manggarai di Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Minggu (2/8/2026).
Acara ini terbuka untuk umum dengan hanya membeli tiket di pintu masuk TMII sebesar Rp 35.000. Akses dari pintu masuk ke anjungan NTT bisa dengan jalan kaki atau dengan kendaraan listrik atau kendaraan listrik milik TMII.
Acara festival ini dimulai dengan pergelaran kirab budaya,dimulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari, dengan menampilkan beragam pertunjukan tradisional, antara lain Tarian Caci, Sanda, Mbata, Danding, Rangkuk Alu, Ndudundake dan ditutup dengan Goyang Ria dengan iringan lagu-lagu timur.
Penanggung jawab Festival Budaya Pentas Caci 2026, Gaudens Wodar, mengatakan caci menjadi simbol kebanggaan masyarakat Manggarai. Caci tidak sekadar tontonan. Sebagai pertarungan satu lawan satu, caci menonjolkan ketangkasan (pukul dan tangkis), seni (lomes) tari (kelong) - suara (lagu dan pekikan), sportivitas dan rasa hormat, keberanian serta rasa syukur.
Menurut Gaudens, tema Festival Caci Diaspora Manggarai tahun 2026 adalah, REKO B'EO TANAH KUNI AGU KALO. Mencintai dan merawat nilai- nilai budaya. Cinta budaya adalah cinta nilai (spiritualitas) kehidupan. Merawat budaya adalah merawat nilai dasar kehidupan.
“Kita wajib menjaga, membangun, merawat nilai budaya Manggarai sebagai tanah kelahiran tempat kita berasal. Ungkapan ini mengingatkan setiap orang Manggarai agar tidak lupa ( neka hemong tanah Kuni agu kalo - tanah Manggarai) sebagai identitas dan asal-usulnya, meski sedang merantau jauh,”ujar tokoh Manggarai yang juga mantan aktivis PMKRI itu dalam keterangan pers resmi, Jumat (31/7/2026).
Gaudens menambahkan meski tampak seperti saling pukul & tangkis, caci diatur oleh norma dan etika ketat yang ditutun nilai-nilai luhur budaya. Gaudens menilai caci sebagai warisan budaya dan spiritual yang perlu dilestarikan, serta meminta dukungan pemerintah agar tradisi ini berkelanjutan.
Ketua panitia Festival Budaya Pentas Caci 2026, Libertus Jehani, menjelaskan, festival diselenggarakan bekerja sama dengan beberapa Komunitas Diaspora Manggarai Se-Jabodetabek.
Selain pentas caci dan danding, kegiatan diisi kirab budaya dan tarian khas Manggarai termasuk Ndundudake yang dibawakan oleh kelompok diaspora muda Manggarai yang sebagian besar adalah mahasiswa mahasiswi. Di anjungan NTT juga, pada saat festival akan menjual makanan khas NTT yang sangat terjangkau juga menjual souvenir karya UMKM-UMKM NTT.
Rangkaian pentas budaya ini akan diakhiri dengan goyang massal terpimpin dengan lagu-lagu seperti "Sini Senang" dan "Kokor Gola."
Seputar tentang Suku Manggarai
Mengutip data kependudukan Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa Suku Manggarai berada di peringkat kedua terbesar di NTT. Sekitar 727.404 jiwa (15,57% populasi NTT) Di lingkup Pulau Flores, Suku Manggarai mendominasi hampir seluruh wilayah barat pulau tersebut (tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur), menjadikannya kelompok etnis dengan populasi sekaligus luas wilayah ulayat terbesar di pulau Flores tersebut.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Suku Manggarai berada di urutan ke-27 sebagai suku terbesar di Indonesia. Secara nasional, populasi Suku Manggarai tercatat sebanyak 737.615 jiwa atau setara dengan 0,31% dari total seluruh penduduk Indonesia.
Di Indonesia, terdapat dua nama Manggarai. Satu di Flores Barat NTT, yang mengacu pada suatu komunitas etnis Manggarai. Sementara, nama Manggarai di Jakarta hanya menunjuk pada nama tempat.
Di sebuah papan yang ditanam di sebelah pintu timur stasiun Kereta Manggarai tertulis jelas asal usul nama Manggarai. Jika mengulik lebih jauh tentang asal-usul Manggarai, ternyata wilayah ini sudah dikenal sejak abad ke-17 silam.
Melansir situs Heritage KAI, awalnya kawasan Manggarai merupakan tempat tinggal dan pasar bagi Pekerja Paksa asal Manggarai, Flores.
Kemudian, wilayah yang masuk dalam Gementee Meester Cornelis ini berkembang menjadi sebuah perkampungan.
Dalam situs Ensiklopedia Jakarta Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, juga dijelaskan bahwa nama Manggarai pada perkampungan itu diberikan oleh kelompok penghuni awal, yakni orang-orang asal Flores Barat.
Dalam perkembangannya, kawasan ini juga lekat dengan budaya masyarakat Betawi.
Zaman dulu, di Manggarai berkembang sebuah tarian yang disebut dengan nama lenggo. Tarian ini, diiringi dengan orkes yang terdiri atas tiga buah rebana biang.
Seorang ahli etnomusikologi, Jaap Kunst, dalam bukunya yang berjudul Music in Java jilid II menyajikan gambar tarian ini.
Tarian tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tarian tradisional Betawi yang disebut tari Belenggo.
Kata Belenggo sendiri, memiliki arti tari. Namun, ada juga yang menyebut bahwa blenggo berasal dari kata lenggak-lenggok.

.png)