PATADaily.id - Batu - Penulis: Gabriel Bobby
Musik itu adalah bahasa universal. Bahkan, bagi sebagian orang musik adalah bahasa cinta. Tak bisa dipungkiri musik itu dianggap sebagai sarana komunikasi universal yang mampu menyampaikan emosi, menyatukan beragam budaya, dan mampu menghubungkan manusia melampaui batasan bahasa.
Adapun kekuatan musik menembus batas bahasa lantaran melodi dan ritme dapat dipahami oleh siapa saja tanpa harus mengerti kata-kata yang diucapkan. Menariknya musik juga dinilai menyatukan perasaan karena musik membangkitkan emosi yang sama seperti rasa sedih, gembira, atau semangat pada pendengarnya.
Dan, mengenal budaya lain, yakni lewat nada yang berbeda, bisa belajar menghargai latar belakang dan cerita dari berbagai daerah. Untuk lebih mengenal musik yang beragam itu, yuk traveling ke Museum Musik Dunia di Jatim (Jawa Timur) Park 3 di Batu, Malang, Jatim.
Ya, museum kini tidak lagi identik dengan aktivitas melihat koleksi dari balik etalase. Tren wisata edukasi mendorong banyak destinasi menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif, sehingga pengunjung dapat mengenal sejarah melalui aktivitas yang melibatkan mereka secara langsung.
Konsep tersebut dapat dijumpai di lantai tiga Museum Musik Dunia, salah satu destinasi di Jatim Park 3. PATADaily.id berkempatan langsung melihat dari dekat Museum Musik Dunia, Senin (14/9/2026). Pada area ini, wisatawan tidak hanya melihat koleksi alat musik dari berbagai negara, tetapi juga mendapat kesempatan mencoba memainkan sejumlah instrumen klasik yang masih berfungsi dengan baik.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah deretan piano, mulai dari baby piano hingga upright piano yang diproduksi pada era 1980-an. Beberapa di antaranya dapat dimainkan oleh pengunjung, sehingga memberikan kesempatan untuk merasakan secara langsung karakter suara dan sentuhan tuts dari instrumen yang memiliki nilai sejarah tersebut.
Selain koleksi piano, lantai tiga Museum Musik Dunia juga menyimpan berbagai alat musik mekanis yang kini mulai jarang ditemui. Di antaranya Phonograph, Leludion Organ, serta Orgue de Barbarie.
Kesempatan mencoba langsung beberapa instrumen tersebut menjadi pengalaman yang membedakan Museum Musik Dunia dengan ruang pamer pada umumnya. Traveler tidak hanya memperoleh informasi mengenai sejarah alat musik, namun juga dapat memahami cara kerja dan karakter bunyi dari masing-masing instrumen melalui pengalaman secara langsung.
Melalui koleksi yang beragam serta konsep yang interaktif, Museum Musik Dunia menjadi ruang bagi pelancong untuk mengenal perjalanan musik dunia dengan cara yang lebih menyenangkan. Tidak sekadar melihat koleksi, pengunjung juga diajak merasakan bagaimana instrumen-instrumen klasik tersebut menghasilkan harmoni yang pernah menjadi bagian dari perkembangan musik dunia.

.png)