PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Yusti Erlina, S.H., Deputi Dukungan Teknis Bawaslu RI menjelaskan bahwa penggunaan AI mulai dari pencatatan administrasi menuju pengawasan berbasis analisis dan peringatan dini.
Yusti mengungkapkan, di Era AI kini dinilai dapat membantu menemukan pola tidak wajar dalam data dan menandai indikasi dugaan pelanggaran untuk diperiksa.
Yusti memaparkan, perlu diingat anomali bukan bukti pelanggaran sehingga kesimpulan tetap memerlukan verifikasi pengawas.
"Pandangan tentang AI ada dalam kerangka 3 P, yakni Penjaga (Guardian): Membantu menandai dugaan manipulasi dokumen, konten sintetis, dan pola penyebaran informasi yang perlu diperiksa, Pembantu (Assistant): Mengelompokkan laporan, merangkum informasi, dan membantu menyusun prioritas pemeriksaan berdasarkan data yang tersedia, dan Pengingat (Reminder): Hasil AI harus dapat ditelusuri dan diuji. Pengawas memverifikasi bukti serta konteks; penetapan pelanggaran mengikuti kewenangan dan prosedur hukum," tuturnya dalam keterangan pers resmi, Senin (26/10/2026).
Sementara untuk kondisi dan arah penguatan, maka ada Form Pencegahan: saat ini berbasis Web untuk kalangan internal Bawaslu, Siwaslu: aktif saat Pemilu, Siwaslih: aktif saat Pilkada, Jarimu Awasi Pemilu: saat ini tidak dapat diakses; belum dapat diandalkan sebagai kanal layanan, dan Arah pengembangan: integrasi data dan layanan, peningkatan kapasitas pengawas, serta uji terbatas AI dan blockchain sesuai kebutuhan, keamanan, dan perlindungan data.
Yusti pada kesempatan diskusi strategis dengan sejumlah tokoh dan pakar AI, blockchain dan digital pemerintahan yang dihadiri sejumlah nama, antara lain Grace Sabandar, President/CEO Ambassador Club, Tuhu Nugraha Dewanto President/CEO IADE-RN, Agus Canny, President/CEO Indonesia of Blockcchain & Metaverse Center sekaligus Dekan di President University serta AntaPutu Rahman Desyanta, President/CEO Baliola Blockchain Indonesia dan didukung penuh Project On menawarkan solusi yang tengah disiapkan, yakni Satu Data Pengawasan Terintegrasi - Mengakhiri aplikasi tercecer., SuperApps Pengawasan Partisipatif –Satu aplikasi untuk lapor, edukasi, cek DPT, Hybrid System: Off-chain + On-chain.
Tak hanya itu, Off-chain untuk kecepatan rekap TPS (Data disimpan dan diolah di luar blockchain, melalui aplikasi dan basis data biasa), dan Lterasi Digital 800rb Pengawas – Para Pengawas melek digital, bukan hanya melek aturan.
Menurutnya, Bawaslu membuka penjajakan kolaborasi dengan tenaga ahli dan peneliti untuk mengembangkan serta menguji teknologi pengawasan secara terbatas, sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku (Bawaslu Tech Fellowship & Regulatory Sandbox Pemilu).
Ia menyampaikan, "IADE-RN: masukan tata kelola dan kepercayaan digital dalam pengawasan, Baliola & IBMC menguji konsep pencatatan jejak perubahan data berbasis blockchain, Mandala on-Chain: penjajakan partisipasi komunitas digital dan diaspora, dan BRIN: riset dan pengujian AI yang akurat, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan".

.png)