PATADaily.id - Jakarta - Industri pariwisata global saat ini memasuki fase transformasi yang sangat dinamis. Perubahan pola perjalanan, meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap kualitas pengalaman, serta persaingan antar negara dalam membangun identitas destinasi menjadi faktor utama yang membentuk wajah pariwisata dunia modern.
Berbagai forum internasional, workshop destinasi, hingga program famtrip lintas negara dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bagaimana sektor pariwisata kini dipandang sebagai pilar strategis ekonomi global. Negara-negara di Asia, Timur Tengah, hingga Afrika mulai memperkuat positioning destinasi mereka melalui pendekatan yang lebih terintegrasi, mulai dari pengembangan infrastruktur pariwisata, digitalisasi layanan wisata, hingga strategi promosi global yang lebih agresif dan terarah.
Fenomena ini juga diamati langsung oleh para pelaku industri travel Indonesia yang aktif mengikuti forum internasional dan pengembangan destinasi global. Salah satunya adalah Mira, Direktur PT Agra Danapati Parama (ADP Trip), yang dalam beberapa waktu terakhir menghadiri berbagai agenda industri pariwisata internasional, mulai dari workshop destinasi, promosi pariwisata lintas negara, hingga program famtrip destinasi baru di kawasan Asia dan Afrika.
Dari berbagai forum tersebut, terlihat adanya pola baru dalam pengembangan destinasi pariwisata global. Banyak negara tidak lagi hanya menjual keindahan alam semata, tetapi mulai membangun ekosistem wisata terpadu yang menggabungkan lifestyle tourism, nature tourism, cultural tourism, hingga experiential tourism dalam satu kesatuan pengalaman perjalanan.
Dalam wawancara terkait perkembangan industri pariwisata global, Mira menyampaikan bahwa perubahan tren wisatawan saat ini menjadi faktor utama perubahan strategi destinasi.
“Dunia pariwisata sekarang berkembang sangat cepat. Wisatawan tidak hanya mencari tempat yang indah, tapi mencari pengalaman yang punya nilai. Mereka lebih detail dalam memilih destinasi, lebih mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan kesesuaian dengan gaya hidup mereka,” ungkapnya.
Selain itu, meningkatnya kebutuhan wisata ramah Muslim juga menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan pariwisata global. Dengan pertumbuhan populasi wisatawan Muslim dunia yang signifikan, banyak negara mulai beradaptasi dengan menyediakan fasilitas halal, akses ibadah, hingga layanan wisata yang lebih inklusif.
Menurut Mira, destinasi yang mampu memahami kebutuhan ini sejak awal akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar Asia Tenggara.
“Wisata ramah Muslim sekarang bukan lagi sekadar nilai tambah. Untuk banyak wisatawan, ini sudah menjadi kebutuhan dasar. Destinasi yang siap di area ini akan lebih mudah berkembang, khususnya untuk pasar seperti Indonesia,” jelasnya kepada PATADaily.id, Rabu (11/2/2026).
Namun di sisi lain, persaingan global yang semakin ketat juga menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Banyak negara kini bergerak sangat cepat dalam membangun infrastruktur pariwisata modern, mengembangkan destinasi baru, serta membangun strategi promosi global yang sangat agresif.
Dalam pandangannya terhadap posisi Indonesia dalam peta pariwisata global, Mira menyampaikan optimisme sekaligus harapan besar terhadap masa depan pariwisata nasional.
“Indonesia punya kekuatan yang sangat besar. Alam kita luar biasa, budaya kita sangat kaya, dan masyarakat kita dikenal ramah. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat dan lebih terarah. Kita tidak boleh kalah langkah dari negara lain.”
Ia juga menekankan bahwa penguatan industri pariwisata nasional perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi promosi destinasi, tetapi juga kualitas layanan, kesiapan infrastruktur, serta penguatan ekosistem industri secara keseluruhan.
“Ke depan, pariwisata bukan hanya soal siapa yang punya destinasi paling indah, tapi siapa yang paling siap memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan,” tambahnya.
Pengamat industri melihat bahwa ke depan, peran travel company juga akan mengalami perubahan signifikan. Travel agent tidak lagi hanya berperan sebagai penjual paket perjalanan, tetapi berkembang menjadi konsultan perjalanan, kurator pengalaman wisata, sekaligus penghubung antara kebutuhan wisatawan dengan kesiapan destinasi global.
Perubahan ini mendorong pelaku industri travel untuk terus beradaptasi, memperluas jaringan global, serta memahami tren perjalanan internasional secara lebih mendalam.
Dengan perkembangan teknologi, keterbukaan akses perjalanan internasional, serta meningkatnya minat wisata berbasis pengalaman, masa depan pariwisata global diproyeksikan akan semakin kompetitif, namun juga semakin kolaboratif.
Banyak negara mulai menyadari bahwa kerja sama lintas negara menjadi kunci dalam membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.
Melihat dinamika tersebut, para pelaku industri optimistis bahwa pariwisata global akan terus tumbuh sebagai sektor yang tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan antar budaya, membuka peluang kerja sama internasional, serta memperluas wawasan masyarakat global.
Dalam konteks Indonesia, potensi untuk menjadi salah satu kekuatan pariwisata dunia masih sangat terbuka lebar, selama pengembangan industri dilakukan secara konsisten, terarah, dan berkelanjutan. (Gabriel Bobby)

.jpg)
.jpg)