PATADaily.id - Tangerang - Di tengah dinamika gaya hidup modern yang serba cepat lantaran mendapat dukungan adanya teknologi yang semakin canggih, maka kini jamu hadir dengan wajah baru. Tradisi kesehatan yang telah hidup ratusan tahun ini kini dikemas sebagai pengalaman budaya yang relevan dengan generasi masa kini yang hidup dengan gaya urban.
Momentum tersebut ditandai dengan peresmian ruang pengalaman jamu oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang.
Bagi Taruna Ikrar, jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan warisan pengetahuan yang menyimpan potensi besar bagi kesehatan dan ekonomi. Dengan sekitar 30 ribu spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal hayati yang kuat untuk mengembangkan produk kesehatan berbasis budaya yang mampu bersaing di tingkat global, selama dikelola secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui konsep Jamu Experience yang dikembangkan PT Acaraki Nusantara Persada (Acaraki).
Adapun Acaraki the Art of Jamu pun salah satu caranya hadir dalam wujud Cafe Jamu Indonesia PIK 2, yang memperkenalkan jamu sebagai bagian dari gaya hidup urban tanpa melepaskan nilai-nilai tradisi. Filosofi jamu tentang doa, kesehatan, dan kearifan lintas generasi dikemas dalam format modern yang mudah diterima masyarakat masa kini.
Menariknya dalam konteks ini, Taruna Ikrar menekankan pentingnya peran negara dalam menjaga keamanan dan mutu. Menurutnya, inovasi berbasis bahan alam harus selalu berpijak pada standar dan regulasi yang jelas agar kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia terus terjaga. BPOM pun berkomitmen memperkuat pengawasan serta memberantas peredaran jamu ilegal demi melindungi masyarakat.
Kehadiran ruang pengalaman jamu ini menjadi simbol bahwa jamu tidak ditinggalkan oleh zaman. Dari warisan leluhur, jamu kini melangkah menuju masa depan kesehatan global yang membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus berkembang.
Bukan lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, jamu adalah pengalaman budaya yang dirayakan, dikurasi, dan dihadirkan dengan bahasa zaman.
Di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Tangerang, jamu hadir dalam bentuk yang akrab bagi generasi urban: ruang yang estetis, narasi yang informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern.
Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.
"Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja. Melalui konsep Jamu Experience Cafe ini kami ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu di depan pelanggan supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut," ujar Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada.
Di PIK 2, jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkannya kembali ke keseharian masyarakat terutama generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi dan budaya populer.
Acaraki pun memperkenalkan acaraki Jamu Capsule alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Tiga varian, Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh.
"Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup," ungkap Jony saat ditemui dalam acara peresmian acaraki di PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Agar lebih dekat dengan generasi muda, acaraki menyuguhkan berbagai varian jamu kekinian yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Seperti beras kencur dengan susu atau vanila twilight, kunyit asam dengan es krim , hingga moringa calate (daun kelor seduh dengan teknik matcha). Ada juga, jahe seduh dengan teknik Vietnam drip.
Jony mengatakan jamu berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya "jampi usodo". Jampi (doa) dan usodo (kesehatan). Jadi, apapun yang dikonsumsi oleh tubuh, dilakukan secara rutin, dikukuhkan dengan doa, itu adalah jamu.
"Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jambu. Artinya
apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silahkan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup," jelas Jony.
Pada kesempatan sama, Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan.
Bagi Taruna, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia, dibangun dari kepastian standar bukan semata klaim.
"Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan," tambah Taruna.
Jamu, menurut Taruna, harus bergerak dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global. Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
"Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju," tutup Taruna. (Gabriel Bobby)

.jpg)
.jpg)