PATADaily.id - Jakarta - Perkembangan pariwisata global saat ini tidak lagi hanya berpusat pada destinasi mainstream, tetapi mulai bergerak ke wilayah-wilayah yang menawarkan keunikan lanskap alam, kekayaan budaya, serta pengalaman wisata yang lebih autentik.
Salah satu wilayah yang mulai mendapat perhatian dalam peta pariwisata Asia adalah Guangxi, sebuah kawasan di selatan Tiongkok yang dikenal dengan panorama alamnya yang dramatis dan karakter budaya yang kuat.
Melalui undangan resmi dari Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter dalam acara Guangxi Cultural and Tourism Promotion Event, Mira selaku Direktur PT Agra Danapati Parama (ADP Trip) turut hadir bersama berbagai pemangku kepentingan industri pariwisata nasional, termasuk perwakilan Kementerian Pariwisata, asosiasi travel seperti AITTA dan ASTINDO, serta pelaku usaha pariwisata lainnya.
Kehadiran berbagai stakeholder ini menunjukkan bahwa Guangxi mulai diposisikan sebagai destinasi strategis baru untuk pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Wilayah ini menawarkan karakter wisata yang sangat berbeda dibandingkan kota metropolitan Tiongkok pada umumnya.
Lanskap pegunungan batu kapur yang menjulang, sungai yang membelah lembah hijau, hingga desa-desa etnis tradisional menciptakan pemandangan yang sering digambarkan seperti negeri dongeng. Keunikan Guangxi tidak hanya terletak pada keindahan visual alamnya, tetapi juga pada kekayaan budaya etnis minoritas yang masih terjaga.
Wilayah ini menjadi rumah bagi berbagai kelompok etnis yang memiliki tradisi, seni pertunjukan, hingga arsitektur tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini. Hal tersebut memberikan nilai tambah bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang lebih mendalam dan autentik.
Selain wisata alam dan budaya, Guangxi juga mulai mengembangkan sektor pariwisata modern, termasuk eco tourism, cultural tourism experience, serta pengembangan kota-kota wisata berbasis lifestyle. Kombinasi ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut sedang mempersiapkan diri menjadi destinasi wisata internasional yang lebih kompetitif di masa depan.
Dalam wawancara mengenai pandangannya terhadap potensi Guangxi, Mira menyampaikan kesan positif terhadap keunikan destinasi tersebut. “Dari apa yang saya pelajari dan lihat dari presentasi mereka, Guangxi memiliki daya tarik yang sangat kuat secara visual dan budaya. Karakter alamnya unik, sangat berbeda dari destinasi Asia lain. Saya bisa membayangkan ini akan sangat menarik bagi wisatawan Indonesia yang ingin merasakan pengalaman baru di luar destinasi yang sudah umum.”
Meski demikian, sebagai pelaku industri travel yang fokus pada pasar Indonesia, ia juga menekankan pentingnya kesiapan destinasi dalam menyambut wisatawan Muslim secara lebih komprehensif.
“Kalau melihat peluangnya, Guangxi sangat potensial untuk market Indonesia. Namun untuk wisata ramah Muslim, menurut saya perlu dipersiapkan lebih matang sejak awal. Kita belajar dari pengalaman beberapa destinasi lain di Asia, bahwa wisatawan Muslim akan merasa lebih nyaman jika informasi halal food, fasilitas ibadah, dan pemisahan pengolahan makanan bisa dijelaskan secara jelas," terangnya kepada PATADaily.id, Rabu (11/2/2026).
Ia menambahkan bahwa hal ini bukan kritik, melainkan masukan konstruktif untuk pengembangan jangka panjang. “Ini bukan soal kekurangan destinasi, tapi lebih ke arah peluang pengembangan. Jika sejak awal sudah disiapkan standar Muslim-friendly tourism yang jelas, Guangxi bisa menjadi destinasi favorit baru bagi wisatawan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.”
Menurutnya, tren wisata global saat ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya mencari destinasi indah, tetapi juga destinasi yang memahami kebutuhan gaya hidup dan nilai budaya mereka. Kehadiran PT Agra Danapati Parama dalam forum promosi ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membaca arah perkembangan destinasi global, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan partner internasional untuk pengembangan produk wisata baru yang lebih variatif.
Dengan pengembangan infrastruktur pariwisata yang terus meningkat, promosi internasional yang semakin aktif, serta potensi alam dan budaya yang sangat kuat, Guangxi diproyeksikan dapat menjadi salah satu rising destination baru dalam industri pariwisata Asia.
Bagi pasar Indonesia sendiri, potensi tersebut semakin besar jika didukung dengan kesiapan layanan wisata ramah Muslim yang terstruktur dan konsisten. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata global, serta travel operator internasional akan menjadi kunci dalam mewujudkan potensi tersebut.
Partisipasi dalam forum promosi ini menjadi langkah awal penting dalam membangun jembatan kerja sama pariwisata antara Indonesia dan Guangxi, sekaligus membuka peluang baru bagi wisatawan Indonesia untuk menjelajahi sisi lain Tiongkok yang lebih alami, autentik, dan berkarakter. (Gabriel Bobby)

.jpg)
.jpg)