TRAVEL

ITDC Perkuat Pariwisata Berkelanjutan melalui Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau di The Nusa Dua dan The Mandalika

post-img

PATADaily.id - The Nusa Dua - Penulis: Gabriel Bobby

Di tengah pesatnya pembangunan sektor pariwisata, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus memperkuat komitmen terhadap implementasi prinsip keberlanjutan melalui pendekatan Protecting Nature sebagai bagian dari framework sustainability perusahaan.

Melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan The Nusa Dua, Bali dan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), ITDC mengintegrasikan upaya ketahanan iklim, efisiensi energi, pengelolaan limbah dan air, hingga perlindungan keanekaragaman hayati dalam satu ekosistem kawasan yang berkelanjutan.

Langkah ini menegaskan bahwa pengembangan destinasi pariwisata tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada harmoni lingkungan dan peningkatan kualitas hidup jangka panjang.

Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana, menegaskan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas destinasi pariwisata sekaligus memperkuat daya saing kawasan pariwisata.

Menurutnya, RTH tidak sekadar menjadi elemen lanskap, tetapi merupakan bagian dari infrastruktur ekologis yang berkontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas udara, pengendalian suhu kawasan, hingga penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Penguatan RTH di The Nusa Dua dan The Mandalika diarahkan untuk menghadirkan ekosistem destinasi yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan, tidak hanya indah secara visual. Melalui pengembangan pengalaman wisata berbasis alam, seperti aktivitas outdoor, wellness, dan rekreasi di kawasan pesisir, RTH menjadi bagian penting dalam mendorong gaya hidup sehat, memperkuat koneksi manusia dengan alam, serta meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh. Pendekatan ini sekaligus menegaskan komitmen ITDC dalam menjaga keberlanjutan destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka panjang," paparnya dalam keterangan pers resmi, Jumat (15/5/2026).

Di kawasan The Nusa Dua, ITDC mengelola RTH seluas ±97 hektare atau sekitar 27% dari total kawasan 359,7 hektare. Sebanyak 43 hektare di antaranya telah ditanami lebih dari 5.700 pohon dari 138 jenis vegetasi, termasuk 32 jenis pohon lokal dan endemik.

Keberadaan RTH berperan penting dalam memperkuat keanekaragaman hayati, menjaga karakter lanskap kawasan, sekaligus berfungsi sebagai paru-paru kawasan yang mendukung pengendalian suhu mikro, peningkatan kualitas udara dan lingkungan, serta penyediaan ruang publik yang nyaman dan inklusif.

Selain itu, The Nusa Dua menunjukkan kontribusi nyata terhadap upaya dekarbonisasi melalui pengelolaan lanskap berbasis biodiversitas yang terintegrasi dan sistem utilitas berkelanjutan. Sejak 1979 silam, kawasan The Nusa Dua telah menerapkan sistem lagoon yang mampu mengolah hingga ±10.000 m³ air limbah per hari untuk dimanfaatkan kembali sebagai irigasi kawasan hijau, sehingga mendukung efisiensi penggunaan air dan implementasi konsep circular water system.

Berdasarkan kajian terbaru, total serapan karbon kawasan The Nusa Dua mencapai 16.279,57 ton karbon, dengan rata-rata biomassa total sekitar 102,6 ton per hektar dan kandungan karbon sebesar ±48,2 ton C per hektar atau setara dengan ±176,8 ton CO₂e per hektar. Angka tersebut mencerminkan kemampuan vegetasi kawasan dalam menyerap dan menyimpan karbon secara signifikan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di tengah tingginya aktivitas pariwisata.

Sementara di The Mandalika, pengembangan pariwisata berkelanjutan diwujudkan melalui pengelolaan kawasan seluas ±1.175 hektare dengan alokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) mencapai 363 hektare atau sekitar 30% dari total area. Dari jumlah tersebut, sekitar 19% telah dikelola secara aktif sebagai bagian dari upaya konservasi dan peningkatan kualitas lingkungan kawasan.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pesisir, sepanjang tahun 2025 telah dilakukan penanaman lebih dari 10.400 pohon melalui program rehabilitasi lingkungan. Upaya ini berlanjut pada tahun 2026 dengan penanaman sebanyak 15.000 pohon mangrove di kawasan pesisir sebagai langkah strategis untuk memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi sekaligus meningkatkan kualitas habitat pesisir.

Pengembangan kawasan The Mandalika juga mengintegrasikan konsep green space dan blue space, yaitu perpaduan antara ruang vegetasi dan elemen air seperti pantai, laguna, serta area konservasi. Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan lanskap kawasan yang estetis dan fungsional, tetapi juga berperan strategis dalam meningkatkan ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim, termasuk mitigasi abrasi, peningkatan daya serap air, serta perlindungan ekosistem pesisir.

Melalui pendekatan tersebut, pengembangan kawasan The Mandalika tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi pariwisata, namun juga memberikan nilai tambah yang nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan kelestarian ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

“Integrasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), ITDC menempatkan RTH sebagai infrastruktur hijau strategis yang tidak hanya memperkuat daya saing destinasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mendukung pengembangan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, resilien, dan rendah karbon,” tutup Febriana.

 

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side