Sejarah Panjang, Budaya Tiongkok Antara Keluarga, dan Cinta yang Diteruskan Zaman
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat
Februari 2026
Tahun Baru Imlek
Merupakan salah satu perayaan budaya Tiongkok tertua yang masih bertahan hingga masa modern.
Jejak sejarahnya dapat ditelusuri lebih dari tiga milenium lalu, terutama sejak masa Dinasti Shang
(sekitar 1600–1046 SM), ketika masyarakat Tiongkok melakukan ritual penghormatan kepada leluhur dan kekuatan alam. Pergantian tahun tidak dimaknai sebagai sekadar perubahan waktu, melainkan sebagai pembaruan kehidupan berakhirnya musim dingin dan lahirnya harapan baru di musim semi.
Dalam sistem penanggalan Tiongkok, Imlek mengikuti kalender lunisolar yang menggabungkan peredaran bulan dan matahari.
Penanggalan ini bersifat siklikal, dikenal dengan siklus enam puluh tahunan yang mengombinasikan dua belas shio dan lima unsur alam.
Oleh karena itu, pertanyaan “Imlek yang ke berapa?” tidak dijawab dengan hitungan linear seperti kalender Masehi.
Imlek lebih tepat dipahami sebagai pengulangan nilai-nilai budaya yang sama, dari generasi ke generasi, dalam bentuk yang terus menyesuaikan zaman.
Sejarah Imlek tidak dapat dipisahkan dari legenda dan simbol.
Kisah tentang makhluk buas bernama Nian, yang dipercaya muncul setiap akhir tahun untuk meneror desa-desa, mencerminkan ketakutan manusia purba terhadap kekuatan alam dan ketidakpastian hidup. Penemuan bahwa Nian takut pada warna merah, api, dan suara keras melahirkan tradisi petasan, lentera, dan dekorasi merah. Seiring waktu, simbol-simbol ini tidak lagi dimaknai secara literal, melainkan sebagai perlambang keberanian, perlindungan, dan optimisme menghadapi masa depan.
Namun inti terdalam dari Imlek bukanlah mitos atau kemeriahan visual, melainkan keluarga.
Sejak dahulu, Imlek adalah momen pulang terbesar dalam tradisi Tiongkok.
Jarak dan waktu seakan dikalahkan oleh panggilan rumah.
Dalam struktur budaya Konfusianisme, keluarga merupakan pusat moral dan sosial, dengan nilai xiao
bakti kepada orang tua sebagai fondasi utama. Imlek menjadi ruang tahunan untuk memperbarui ikatan tersebut.
Kasih orang tua kepada anak menemukan bentuk simboliknya dalam Angpao.
Secara historis, Angpao berasal dari kebiasaan memberikan uang logam yang diikat benang merah untuk melindungi anak dari roh jahat dan penyakit. Warna merah melambangkan keberuntungan dan kehidupan, sementara uang melambangkan bekal dan perlindungan. Dalam perkembangannya, Angpao menjadi ritual tahunan yang sarat makna: doa, restu, dan tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anak.
Dalam konteks budaya, Angpao bukanlah transaksi ekonomi, melainkan bahasa cinta.
Orang tua yang mungkin tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secara verbal, menyampaikan kasihnya melalui amplop merah itu.
Di dalamnya tersimpan harapan agar anak tumbuh sehat, hidup bermakna, dan tidak melupakan akar keluarga.
Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mulai memberikan Angpao kepada orang tua, terjadilah perputaran peran yang sarat makna budaya. Tradisi ini mencerminkan kesinambungan nilai dari menerima menjadi memberi, dari dilindungi menjadi menjaga.
Di sinilah Imlek memperlihatkan dirinya sebagai sejarah hidup bukan hanya milik masa lalu, tetapi terus bergerak di dalam keluarga.
Renungan Keluarga
Di akhir semua ritual, Imlek mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: sejauh mana kita masih memelihara hubungan dengan keluarga, dengan orang tua, dengan akar kita sendiri?
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Imlek mengingatkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan kembali ke nilai: rasa hormat, syukur, dan cinta tanpa syarat.
Selama masih ada meja makan yang menunggu, tangan orang tua yang menua, dan Angpao yang disertai doa, Imlek akan selalu lebih dari sekadar perayaan.
Imlek adalah kisah panjang tentang manusia, keluarga, dan cinta yang tak pernah putus oleh zaman.
www.kris.or.id

.jpg)
.jpg)