JAKARTA'S EVENTS

Bumi, Rumah Bersama untuk Kesejahteraan Bersama

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Pameran lukisan bertema “Bumi, Rumah Bersama untuk Kesejahteraan Bersama” merupakan pameran lukisan yang diselenggarakan oleh Golden Rose Community (GRC). 

Pameran ini merupakan pameran berkala yang diselenggarakan pada 4 hingga 9 Januari mendatang di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.  Dalam pameran ini akan diselenggarakan juga workshop melukis yang bisa dikuti oleh masyarakat, pada 7 Januari 2026. 

GRC merupakan komunitas yang  berada di Jakarta dan saat ini masih menangani hal yang terkait aktivitas seni, terutama seni rupa. "Konsep tentang tema pameran sebenarnya sudah ada sejak lebih dari setengah tahun yang lalu, ketika Indonesia belum terpuruk lebih dalam karena  kondisi bencana seperti saat ini," tulis siaran pers pada akhir pekan lalu

Para periupa merefleksikan kepedulian terhadap kondisi sekeliling melalui karya seni 2 dan 3 dimensi. Penyelenggaraan pameran ini secara umum berlatar belakang pada gerakan kepedulian untuk masyarakat yang terdampak krisis ekonomi saat ini. 

Para perupa, disabilitas yang berprofesi sebagai perupa yang ada di seputar Jabodetabek masyarakat kaum urban yang ada di slum area, merujpakan bagian dari masyarakat yang terdampak kondisi krisis ekonomi pada saat ini. 

"Melalui pameran ini, terbuka kesempatan bagi para perupa dan para disabilitas yang berprofesi sebagai perupa  atau memiiliki skill melukis untuk menyelenggarakan pameran lukisan bersama". 

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab utama terjadinya krisis ekologis di Indonesia adalah karena dominasi, paradigma yang memposisikan alam sebagai obyek, alat. Alam diposisikan sebagai alat yang dimanfaatkan manusia tanpa melihat bahwa alam memiliki roh kehidupan.  

Banyak sumber daya alam rusak akibat ulah manusia. Saat bumi diciptakan Tuhan, semua baik adanya.  Alam menjadi rusak karena sisi egoistik manusia yang memanfaatkan alam ini semena-mena, sesuka hati merusak dan mengekspolitasi. 

Alam menjadi alat untuk keuntungan pribadi. Kerusakan akibat keserakahan tersebut semakin bertambah dengan ketidakpedulian manusia pada kondisi setempat. Selain kerusakan ekosistem, polusi udara dan sampah menjadi salah satu akibat kerusakan bertambah parah. 

Udara bersih, udara berkualitas menjadi sulit didapatkan. Racun akibat habitat yang rusak, terdistribusi tak hanya pada manusia, tapi juga pada lingkungan sekitar. 

Alam bereaksi lebih keras ketika dirusak : banjir, longsor, gempa bumi, topan, likufaksi, efek rumah kaca, kerusakan hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia, kepunahan habitat hutan,  gangguan terhadap habitat manusia. 

Kerusakan alam, ekosistem membuat ketahanan negara terhadap krisis melemah, membuat hutang dan pengeluaran negara meningkat.

Kemiskinan bertambah. Kerusakan alam, ekosistem hanya menyengsarakan rakyat, membuat negara miskin. Ketika alam ditindas, dampaknya luar biasa mengerikan. Mewujudkan bumi sebagai rumah bersama bukan hal yang sekali jadi. Perlu berbagai upaya yang dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan.

Pada kesempatan ini, A Lily Widjaja, Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) menjelaskan bahwa ekspres jiwa yang tak ternilai ketika menikmati lukisan.

"Lukisan adalah karya sehingga menuangkan ekspresi jiwa," katanya kepada PATADaily.id, Minggu (4/1/2026). Ia mengungkapkan, membeli lukisan adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap karya lukisan yang ada.

Lily yang juga founder D*LIGHT Group menuturkan bahwa orang Indonesia telah melihat bela rasa yang pada akhirnya mampu menjelma menjadi gerakan masyarakat untuk saling menolong dalam situasi yang terjepit dan penuh kesulitan. (Gabriel Bobby)

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side