PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Pemerintah menetapkan bulan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan karena terkait dengan Hari Kartini menjadi momentum yang baik untuk mengingat kembali peran perempuan Indonesia.
Demikian disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa kepada PATADaily.id, Senin (20/4/2026)> "Kami memandang penetapan bulan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan merupakan momentum yang sangat baik untuk kembali mengingatkan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa.
Semangat, lanjutnya, Raden Ajeng Kartini tidak hanya relevan dalam konteks emansipasi, tetapi juga dalam mendorong perempuan untuk terus berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pariwisata. "Bagi kami di Kementerian Pariwisata, pemberdayaan perempuan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari penguatan ekonomi. Karena ketika perempuan berdaya, maka keluarga, masyarakat, dan ekosistem pariwisata juga ikut menguat," terangnya.
Ni Luh mengungkapkan, perempuan memiliki peran yang sangat besar dan nyata dalam sektor pariwisata Indonesia. "Kita melihat perempuan hadir di berbagai lini, mulai dari pelaku UMKM, pengelola homestay, pemandu wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif. Bahkan di banyak destinasi, perempuan menjadi tulang punggung penggerak ekonomi lokal," tuturnya.
Ia memaparkan, hasil olahan dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) melalui kerja sama antara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan jumlah tenaga kerja pariwisata pada 2024 silam sebanyak 25,01 juta orang dengan share terhadap seluruh penduduk bekerja sebesar 17,29%.
Jika, lanjutnya, dilihat berdasarkan jenis kelamin, tenaga kerja pariwisata terdiri dari 13,62 juta orang perempuan (54,45%) dan 11,39 juta orang laki-laki (45,55%). Ini menunjukkan bahwa pariwisata adalah sektor yang inklusif dan membuka ruang yang luas bagi perempuan untuk berkembang.
"Ke depan, tentu kita ingin peran ini terus diperkuat, baik dari sisi kapasitas, akses, maupun perlindungan, agar perempuan tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga pengambil keputusan dalam ekosistem pariwisata," urainya.
Ni Luh Puspa menilai fenomena solo traveling, termasuk di kalangan perempuan, merupakan bagian dari perubahan tren wisata yang lebih mengarah pada pengalaman personal dan reflektif. "Kami melihat ini sebagai hal yang positif, selama didukung dengan aspek keamanan, kenyamanan, dan informasi yang memadai," jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, pemerintah terus mendorong penguatan destinasi yang aman, ramah, dan inklusif bagi semua wisatawan, termasuk perempuan yang melakukan perjalanan secara mandiri.
Yang terpenting, lanjutnya, adalah memastikan bahwa setiap wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan rasa aman dan nyaman. Perempuan juga diketahui memegang peran penting dalam keluarga ketika akan traveling ke suatu destinasi wisata.
"Memang dalam banyak kasus, perempuan memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk dalam menentukan destinasi wisata," katanya.
Menurutnya, perempuan biasanya lebih detail dalam mempertimbangkan aspek kenyamanan, keamanan, serta pengalaman yang akan didapat oleh seluruh anggota keluarga. Ini menjadi hal yang sangat penting bagi kami, karena artinya kualitas destinasi, pelayanan, kebersihan, hingga hospitality menjadi faktor utama dalam menarik wisatawan.
"Dengan kata lain, ketika sebuah destinasi ramah terhadap perempuan dan keluarga, maka daya tariknya akan semakin kuat," ujarnya. Wakil Menteri Pariwisata ini menilai Indonesia memiliki kekuatan besar dari sisi kekayaan alam dan budaya.
Namun, lanjutnya, tantangan ke depan adalah bagaimana kita memastikan pengembangan pariwisata berjalan secara berkualitas dan berkelanjutan.
"Beberapa hal yang terus menjadi fokus kami antara lain peningkatan kualitas destinasi, penguatan sumber daya manusia, konektivitas, serta memastikan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal," ungkapnya
Selain itu, lanjutnya, kita juga harus adaptif terhadap dinamika global dan perubahan tren wisatawan. Karena itu, arah kebijakan pariwisata saat ini tidak lagi hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi lebih kepada kualitas pengalaman, keberlanjutan, serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

.jpg)
.jpg)