Destination

Merenda Keprihatinan, Menunggu Kepastian

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby

Beberapa waktu terakhir ini gawai saya selalu penuh dengan pesan-pesan grup maupun pribadi pertanyaan dan obrolan seputar kondisi perekonomian yang dinilai memburuk hingga saat ini. Hampir semua pandangan pelaku bisnis maupun pengamat mengatakan hal yang sama serta menyuarakan sinyal-sinyal kekhawatiran dan keprihatinan. Fundamental ekonomi yang dikatakan masih kuat namun diwarnai Rupiah terus melorot, IHSG ambruk dan investor exit, sementara daya beli melemah serta ancaman meningkatnya pengangguran.

Hal tersebut disampaikan Jahja B Soenarjo selaku Founder & Chairman CEO Business Forum Indonesia kepada PATADaily.id, Selasa (9/6/2026). Ia mengatakan, di sisi lain sejumlah kesepakatan baik antar pemerintah maupun swasta masih terus bergulir, menampilkan angka-angka investasi yang disepakati, menjadi tantangan untuk realisasi.

Dan, lanjutnya, tentunya juga tantangan untuk pembuktian kemudahan berinvestasi dan perizinan, pemangkasan ataupun penyederhanaan birokrasi dan jaminan keamanan serta minimalisir gangguan dari kelompok-kelompok tertentu.

"Ketika nilai tukar menyentuh angka Rp 17.845 per dollar, banyak dikomentari dengan satu kata : MERDEKA ! Suatu sindiran yang miris. Harga-harga mulai merangkak naik perlahan tapi pasti, pecahan lima puluh ribuan hingga seratus ribuan mulai kurang berarti, bahkan bisa seharga nyawa akibat perut yang lapar," terangnya.

Namun di sisi lain masih ada masyarakat anti-krisis yang kurang peduli dan tetap menyisihkan waktunya untuk bersuka ria, memenuhi tempat-tempat hiburan, menyebarkan foto-foto bak selebriti yang terkadang disertai narasi-narasi yang kurang tepat di media sosial.

Tanpa disadari aksi-aksi ini memperlebar kesenjangan secara emosional dengan masyarakat yang kantongnya mulai tipis, lambungnya mulai perih menahan asam yang meminta asupan. 

Di kalangan pengusaha tak kalah gusar, bila daya beli merosot maka ritel pasti kena imbas, perbelanjaan juga sepi, kecuali sentra kulinernya (food court), permintaan yang melorot akan memaksa pengusaha mengurangi kapasitas sambil mencari peluang dengan diversifikasi pasar dan produk, yang modalnya kuat pasti bisa, yang modal pas-pasan kalau tidak inovatif dan berdayajuang pantang menyerah?”, ya hanya bisa pasrah. 

Sudah sinarnya meredup akibat situasi yang kurang baik dari luar maupun (terutama) dalam, pengusaha masih harus menghadapi serangkaian perubahan aturan dan ribetnya perpajakan. Jujur mereka yang lolos berjuang di Indonesia adalah pengusaha-pengusaha tangguh luar biasa yang tahan gempuran masalah dan tetap saja tahu mencari celah jalan keluar. 

"Terakhir dari pandangan saya kali ini, sekadar mempertanyakan MBG yang carut marut menjadi ladang berebut kue dan harus dilanjutkan, yang dari awal sudah tidak tepat sasaran, apakah masih tepat sasaran. Beranikah Pemerintah dalam hal ini BGN menutup SPPG yang tidak tepat sasaran dan paling ekstrim, memberhentikan program MBG demi mengamankan keuangan negara," paparnya.

Demikian pula dengan KMP, koperasi yang didirikan dengan tujuan mulia berlandaskan atas UUD 1945 pasal 33 ayat 1, sejatinya bersih tidak di bawah kendali korporasi atau perseroan sebagai holding. Dan banyak sekali yang sudah jadi tapi masih tutup atau bahkan lokasinya amat sangat tidak tepat.

Janganlah ditujukan bahwa bahwa koperasi ini berdiri untuk menyaingi bahkan menghentikan langkah ritel swasta yang distigmakan sudah memonopoli, pernyataan yang tidak elegan dan sehat. Peritel swasta sudah berdiri sangat lama dan menjadi mitra pemerintah menggerakkan perekonomian melalui model bisnis waralaba dan mencetak pengusaha-pengusaha lokal.

Masyarakat menyoroti banyak hal yang dilakukan Pemerintah, media sosial merupakan rekam jejak yang dapat diakumulasi kepada sebuah kesimpulan. Masyarakat menunggu langkah terbaik Pemerintah yang mereka harapkan dan sesuai janji-janji saat kampanye. Sudah cukup banyak kritik halus hingga kasar dan sindiran di media sosial yang tak perlu dibungkam atau diserang balik oleh para buzzer, terlalu kentara konfrontasinya.

Jahja menjelaskan, transparansi dan obyektivitas menjadi tantangan untuk pemerintahan koalisi gemuk yang masih banyak kekurangan, namun jangan diperbaiki dengan menambah kekurangan dan masalah lain, sangat dikhawatirkan masyarakat yang bingung bisa mendadak liar dan brutal.

Kalau semua masukan elemen masyarakat yang cerdas dianggap kritik tidak sehat dan seolah oposisi, maka kian kuat kesimpulan bahwa koalisi dalam dewan memang kurang mendengar suara rakyat, lebih kepada menjaga kepentingan.

Maka, lanjutnya, jawabannya sekali lagi, meminjam satu kata dari senior Dahlan Iskan, saya merangkum sepenggal kalimat : kita memang prihatin tapi mungkin kita terpaksa pasrah.

Jahja menegaskan bahwa dirinya tidak bertujuan menyerang, namun lebih kepada pemikiran yang tentunya juga pemikiran bersama banyak pihak yang cinta Indonesia.

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side