PATADaily.id - Korea Selatan - Penulis: Gabriel Bobby
Masa depan pariwisata Asia Pasifik dinilai tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, melainkan siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan global.
Hal tersebut menjadi salah satu insight utama yang mengemuka dalam PATA Annual Summit 2026 yang dihadiri Ardiyansyah Djafar sebagai delegasi PATA Indonesia Chapter di Korea Selatan.
Tahun ini, PATA Annual Summit 2026, digelar mulai dari 11 hingga 13 Mei 2026, di Kota Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan, dengan mengangkat tema “Navigating Towards a Resilient Future”. Forum tersebut dihadiri lebih dari 550 delegasi dari lebih dari 35 destinasi di kawasan Asia Pasifik dan menghadirkan lebih dari 60 pembicara dari sektor pariwisata global, mulai dari regulator, tourism board, platform digital, hingga perusahaan teknologi perjalanan.
Dalam forum tersebut, Pacific Asia Travel Association (PATA) memproyeksikan international visitor arrivals di kawasan Asia Pacific mencapai baseline 761,2 juta pada 2028. Sementara itu, sebanyak 68,3 persen inbound travel kawasan pada 2025 diproyeksikan berasal dari intra-regional travel atau perjalanan antarnegara di kawasan Asia Pasifik.
Menurut Ardiyansyah, sapaan akrabnya, angka tersebut menjadi sinyal penting bahwa persaingan destinasi wisata ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan tiap negara memahami kebutuhan wisatawan yang terus berubah.
“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” kata Ardiyansyah dalam keterangan pers resmi belum lama ini.
AI dan digitalisasi ubah strategi destination marketing
Dalam salah satu sesi yang dibawakan perusahaan travel marketing technology Sojern, terungkap bahwa destination marketing kini tengah mengalami pergeseran besar. Perubahan tersebut dipengaruhi ekspektasi wisatawan yang semakin terfragmentasi, perkembangan artificial intelligence (AI) yang mengubah cara wisatawan mencari inspirasi hingga melakukan booking, serta kompetisi antardestinasi yang semakin luas.
Bahkan, dalam laporan State of Destination Marketing 2026, Sojern menyoroti bahwa para destination marketer (orang atau lembaga yang menjalankan promosi) kini menghadapi tekanan lebih besar untuk mampu menunjukkan dampak yang terukur atas strategi pemasaran yang dijalankan.
Indonesia dinilai punya modal kuat
Bagi Indonesia, insight tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi industri pariwisata nasional saat ini. Dengan capaian 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara, serta momentum 1,09 juta kunjungan wisman pada Maret 2026, Indonesia dinilai telah memiliki fondasi pasar yang kuat.
“Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi, baik bagi wisatawan asing maupun domestik,” katanya.
Menurutnya, perubahan perilaku wisatawan global juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat positioning pariwisata berbasis pengalaman, budaya, keberlanjutan, serta konektivitas digital yang semakin terintegrasi dengan kebutuhan wisatawan masa kini.
Selain membahas transformasi industri pariwisata global, forum PATA Annual Summit 2026 juga mengangkat berbagai isu strategis lain, mulai dari sustainable tourism governance, digital tourism resilience, pengembangan AI dalam sektor travel, hingga penguatan talenta pariwisata generasi muda di kawasan Asia Pacific.
Ajak regulator pariwisata nasional ikut PATA Annual Summit
Ia juga berharap ke depan semakin banyak pelaku industri pariwisata nasional, termasuk regulator seperti Kementerian Pariwisata dan InJourney, bisa terlibat dalam forum-forum internasional seperti PATA Annual Summit di tahun-tahun selanjutnya.
“Momen seperti PATA Annual Summit menjadi penting tidak hanya bagi pelaku industri pariwisata, tetapi juga regulator dan pemangku kebijakan pariwisata di Indonesia. Forum ini memberikan insight, data, serta gambaran mengenai arah perubahan industri pariwisata global yang sangat relevan untuk mengambil strategi pengembangan destinasi yang tepat bagi Indonesia ke depan,” tutup Ardiyansyah.

.jpg)
.jpg)