PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Industri business event semakin diposisikan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Indonesia.
Pemerintah bersama pelaku industri memperkuat strategi tersebut melalui penyelenggaraan Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026 yang mempertemukan buyer internasional dengan pelaku industri business event nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan sektor pariwisata terus menunjukkan kinerja positif. Sektor akomodasi serta penyediaan makanan dan minuman mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen, sementara devisa pariwisata mencapai sekitar US$4 miliar pada kuartal pertama tahun ini.
Menurut Airlangga, tren bleisure, perjalanan yang menggabungkan aktivitas bisnis dan rekreasi—menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi business event dunia.
Ia pun menilai penyelenggaraan business events mampu menghasilkan dampak ekonomi yang luas melalui peningkatan kunjungan wisatawan, investasi, hingga konsumsi lokal. Sebagai gambaran, penyelenggaraan Piala Dunia FIFA mampu menghasilkan sekitar US$16 miliar bagi negara tuan rumah.
Sejalan dengan strategi tersebut, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata menggelar Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026 sebagai platform business matching antara pelaku industri nasional dan pasar internasional.
IBEM menghadirkan sekitar 200 seller dari sektor bisnis event dan pariwisata serta 220 buyers dari berbagai negara. Forum ini diharapkan membuka peluang kerja sama bisnis baru sekaligus memperluas akses pasar industri business event Indonesia.
"Segmen business event saat ini menyumbang sekitar 30,75 persen terhadap pasar global event management yang pada 2024 bernilai sekitar US$1,2 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi US$1,29 triliun pada 2025," jelasnya dalam keterangan pers resmi, Jumat, (31/7/2026).
Kawasan Asia Pasifik juga menjadi wilayah dengan tingkat partisipasi tertinggi serta pendapatan langsung terbesar kedua dalam industri business event global, sehingga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar business event.
Untuk mendukung pengembangan industri tersebut, pemerintah terus memperluas portofolio business event melalui agenda internasasional, kegiatan lintas batas, serta Kharisma Event Nusantara.
Kementerian Pariwisata juga tengah mengembangkan Portal Event by Indonesia, platform digital nasional yang akan menjadi pusat informasi, data, dan layanan penyelenggaraan event di Indonesia.
Organizing Committee IBEM 2026, Christine Besinga, menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk bersaing sebagai destinasi business event regional. Selain didukung hotel berbintang, ballroom berkapasitas besar, serta biaya penyelenggaraan yang kompetitif, Indonesia juga memiliki keragaman destinasi yang dapat dikembangkan sebagai lokasi business events.
Namun, menurutnya, tantangan terbesar masih terletak pada eksposur Indonesia di pasar internasional. Karena itu, promosi yang konsisten serta dukungan media dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing destinasi Indonesia.
Christine mengatakan penyelenggaraan IBEM berikutnya ditargetkan meningkat menjadi sekitar 200 seller dan 300 hosted buyers. Program tersebut juga akan diperluas melalui penyelenggaraan farm trip ke sejumlah destinasi seperti Bali, Labuan Bajo, Bandung, dan Belitung agar buyer internasional dapat mengenal langsung potensi business event Indonesia.
Respons positif juga datang dari buyer internasional. Managing Director Emi Global asal Amerika Serikat, Armindo Ferreira, menilai Indonesia menawarkan banyak destinasi yang masih belum dikenal pasar internasional.
Saat ini pihaknya tengah mempelajari konektivitas antara Jakarta, Bali, dan sejumlah destinasi di Pulau Jawa untuk dikembangkan menjadi paket business events yang lebih beragam.
Meski demikian, ia menilai destinasi utama tetap memiliki peran strategis. Jakarta dinilai ideal sebagai lokasi konferensi dan pertemuan bisnis, sedangkan Bali maupun Lombok memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi incentive travel maupun program pasca-acara.
Minat buyer terhadap destinasi wisata di luar Bali menunjukkan perubahan tren pasar global yang mulai mencari pengalaman baru dalam penyelenggaraan business events. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas promosi destinasi sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri business event di kawasan Asia.

.png)