PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Menyambut perayaan World Tourim Day pada 27 September mendatang, Djohari Somad, Ketua AITTA DPD Jakarta menjelaskan bahwa sektor pariwisata selama ini rupanya punya dampak besar terhadap perekonomian karena efeknya langsung ke banyak sektor lainnya.
"Wisatawan datang, uangnya masuk ke hotel, travel agent, transportasi, restoran, UMKM sampai masyarakat lokal. Jadi pariwisata bukan hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah," katanya kepada PATADaily.id, Jumat (25/9/2026).
Semakin, lanjutnya, besar uang wisatawan yang berputar di dalam negeri, semakin besar kontribusi pariwisata terhadap ekonomi nasional.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi pariwisata. "Kita punya alam, budaya, kuliner dan ribuan destinasi. Tetapi menurut saya, kita terlalu sering berhenti bicara pada potensi, belum cukup kuat mengubah potensi itu menjadi wisatawan yang benar-benar datang," paparnya.
Salah satu, lanjutnya, kuncinya adalah konektivitas. Djohari menuturkan, negara pesaing seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam lebih agresif membangun akses penerbangan internasional. Ia menyebut berdasarkan studi tahun 2026 bahkan menemukan bahwa pada rute yang diteliti, ketika penerbangan langsung dihentikan, kedatangan wisatawan turun rata-rata 34,3%.
Jadi, lanjutnya, potensi harus dikonversi menjadi kunjungan. Promosi penting, tetapi harus diikuti direct flight, akses yang mudah, produk yang siap dijual dan pelayanan yang baik. "Kita jangan hanya bangga punya destinasi. Kita harus membuat wisatawan benar-benar datang," tegasnya.
Seiring perkembangan zaman maka teknologi yang semakin canggih, termasuk AI, bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata Nusantara. "Sangat besar. AI membuat promosi pariwisata jauh lebih cepat, murah dan tepat sasaran. Kita bisa mengetahui apa yang dicari wisatawan, membuat promosi dalam berbagai bahasa, menawarkan destinasi sesuai minat mereka, bahkan membantu menyusun perjalanan sampai tahap pemesanan," ungkapnya.
Tapi, lanjutnya, jangan sampai AI hanya dipakai untuk membuat konten dan gambar yang bagus. "Tantangan kita adalah bagaimana teknologi bisa mengubah orang yang tertarik melihat Indonesia menjadi orang yang benar-benar datang ke Indonesia," ucapnya.
Jadi, lanjutnya, ukurannya bukan berapa banyak konten yang kita buat, tetapi berapa banyak yang berhasil kita konversi menjadi wisatawan. Menariknya wisatawan kini semakin mencari experience. Dan, lanjutnya, sekali lagi persoalan kita bukan kekurangan potensi, tetapi bagaimana mengubah potensi menjadi experience yang bisa dibeli wisatawan.
"Thailand sudah mengemas pertunjukan budaya, kuliner, madu, herbal dan produk lokal menjadi bagian dari perjalanan. Korea membuat wisatawan bukan hanya makan kimchi, tetapi belajar membuat kimchi, memakai hanbok, mengikuti kelas memasak sampai menikmati pengalaman K-pop dan K beauty. Indonesia punya budaya, kuliner dan tradisi yang mungkin jauh lebih beragam, tetapi kita masih terlalu banyak bicara tentang potensinya," terangnya.
Maka tantangannya adalah mengubah potensi itu menjadi produk experience yang terstruktur, mudah dibeli, dan menghasilkan belanja wisatawan. Jangan hanya menjual apa yang Indonesia punya. Jual apa yang bisa wisatawan alami di Indonesia.
Djohari rupanya punya harapan pada World Tourism Day 2026. "Harapan saya, pemerintah lebih kuat menggerakkan seluruh sumber daya pariwisata. Kita punya seni budaya, kuliner, UMKM dan berbagai aktivitas lokal, tetapi terlalu sering muncul hanya pada event-event tertentu," katanya.
Ia menuturkan, seni budaya harus dihidupkan menjadi pertunjukan rutin yang bisa disaksikan wisatawan setiap saat. UMKM dan gastronomi juga harus masuk dalam rangkaian pengalaman wisata, sehingga wisatawan bukan hanya datang dan melihat, tetapi juga menikmati dan berbelanja.
"Pariwisata tidak boleh hidup hanya ketika ada event. Pariwisata harus hidup setiap hari. Di sinilah pemerintah punya peran besar: mengorkestrasi potensi menjadi produk yang siap dinikmati wisatawan dan menghasilkan ekonomi bagi masyarakat," tutupnya.

.png)