TRAVEL

Ramadan, Peluang Besar Indonesia Mengembangkan Wisata Ramah Muslim

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Ramadan yang merupakan bulan suci bagi umat Islam tiba namun rupanya bulan puasa bukan sekadar menjadi momentum spiritual, tetapi strategic season bagi penguatan ekosistem wisata ramah Muslim di Indonesia.

Demikian disampaikan Tetty DS Ariyanto, Sekjen DPP ITLA ketika dihubungi PATADaily.id, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan demografis sekaligus kultural.

Seperti diketahui, Indonesia selama ini dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sehingga punya potensi besar untuk mengembangkan wisata ramah Muslim di negeri ini bagi wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara, seperti dari Malaysia, dan negara kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi.

Tetty yang juga adalah founder Indonesia Cultural Heritage ini menjelaskan bahwa selama Ramadan, terjadi peningkatan kebutuhan terhadap layanan perjalanan yang memperhatikan ketersediaan makanan halal dan sahur juga iftar yang layak, fasilitas ibadah yang nyaman, dan aktivitas wisata yang selaras dengan nilai spiritual.

Maka, lanjutnya, kota-kota seperti Banda Aceh, Yogyakarta, Lombok, dan Demak menunjukkan bahwa Ramadan justru dapat menjadi daya tarik wisata religi, budaya, dan kuliner. "Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan demografis sekaligus kultural," jelasnya.

Menurutnya, Ramadan harus diposisikan sebagai value season, bukan low season. Ia menerangkan bahwa secara global, wisata ramah Muslim adalah salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam industri pariwisata.

Tetty mengemukakan, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Turki, Jepang, Korea Selatan bahkan China telah mengembangkan sertifikasi halal bidang hospitality, penyediaan mushala di bandara dan pusat belanja, restoran bersertifikat halal, dan tak ketinggalan pelatihan SDM pariwisata berbasis sensitivitas budaya.

Sehingga, lanjutnya, wisata ramah Muslim bukan hanya milik negara mayoritas Muslim namun sudah berkembang menjadi standar layanan global yang inklusif. "Pesan saya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, kita harus menjadi benchmark," katanya.

Tetty yang juga Master Asesor BNSP ini mengungkapkan bahwa Ramadan memiliki dua karakteristik pasar, yakni pra Ramadan dan awal Ramadan sehingga bisa tercipta wisata domestik bernuansa religi. Kemudian, lanjutnya, pasca Ramadan, yaitu hari raya Idul Fitri yang biasanya menimbukan lonjakan perjalanan silaturahmi dan leisure.

"Tren menunjukkan bahwa wisatawan Muslim Indonesia semakin sadar terhadap kenyamanan spiritual saat bepergian. Mereka tidak lagi hanya mencari destinasi indah, tetapi destinasi yang memberikan peace of mind," ujarnya.

Namun, lanjutnya, keputusan bepergian tetap ditentukan oleh harga, aksesibilitas, kualitas layanan, adanya jaminan kehalalan, dan SDM kompeten. "Jika kelima aspek ini kuat, Ramadan justru menjadi travel motivator," bebernya.

Ia menyebut bahwa pemerintah perlu mendorong wisata ramah Muslim. "Sangat perlu tetapi dengan pendekatan yang tepat," tegasnya. Tetty menyampaikan bahwa wisata ramah Muslim bukan eksklusivitas, melainkan standar kualitas layanan.

"Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan sertifikasi halal hospitality, meningkatkan kompetensi SDM pariwisata, mendorong standardisasi layanan berbasis kebutuhan wisatawan Musli, dan memastikan keamanan dan keselamatan wisatawan," paparnya.

Dan, lanjutnya, kepada pasar internasional diplomasinya harus  berbicara dalam bahasa kualitas dan produktivitas, bukan sekadar label.Tetty berharap untuk wisata ramah Muslim di Indonesia. "Harapan saya sederhana namun strategis, yakni Indonesia harus menjadi pusat referensi global untuk wisata ramah Muslim," terangnya.

"Karena kita punya modal budaya, keragaman destinasi, moderasi beragama yang nyata, dan SDM pariwisata yang adaptif, produktif dan inovatif," tuturnya.

Ke depan, Tetty berharap ada standardisasi nasional yang kuat, SDM tersertifikasi kompetensinya, kolaborasi pemerintah, industri, dan asosiasi berjalan produktif, serta wisata ramah Muslim menjadi bagian dari strategi daya saing nasional.

"Karena pada akhirnya, wisata ramah Muslim bukan hanya tentang fasilitas ibadah, tetapi tentang menghadirkan pengalaman perjalanan yang bermartabat, nyaman, dan bernilai ibadah. Dan, Indonesia insya Allah mampu memimpin itu," jelasnya. (Gabriel Bobby)

 

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side