PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
April bagi Agustini Rahayu, Staf Ahli Bidang Kekayaan Intelektual dan Transformasi Digital Kementerian Ekonomi Krratif selalu punya makna tersendiri.
"Buat saya, April selalu punya makna tersendiri, bukan cuma karena peringatan Hari Kartini, tapi karena semangat yang dibawa beliau itu masih sangat relevan hari ini," katanya kepada PATADaily.id, Senin (20/4/2026).
Kartini, lanjutnya, bukan hanya soal emansipasi dalam arti klasik, tapi soal akses, baik itu akses terhadap pendidikan, terhadap ruang ekspresi, terhadap kemampuan untuk bicara dan didengar. "Di era digital dan ekonomi kreatif seperti sekarang, ‘akses’ itu bentuknya bisa bermacam-macam, akses ke platform, ke jaringan, ke perlindungan kekayaan intelektual atas karya yang dihasilkan perempuan," jelasnya.
Jadi, lanjutnya, buat saya, Bulan Pemberdayaan Perempuan adalah pengingat bahwa pemberdayaan itu bukan seremoni, tapi sistem yang harus terus kita bangun.
Ayu, demikian ia kerap disapa, mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan Indonesia dalam sektor ekraf (ekonomi kreatif) begitu besar. "Kalau kita bicara data, perempuan itu sudah ada di mana-mana dalam ekosistem ekraf, baik dari pelaku UMKM kreatif, kreator konten digital, musisi, desainer, penulis, sampai ke produser film," urainya.
Tapi, lanjutnya, yang menarik sekaligus jadi PR kita bersama adalah bahwa kehadiran fisik itu belum selalu diiringi dengan kehadiran struktural. Artinya, perempuan hadir sebagai pelaku, tapi belum selalu hadir sebagai pengambil keputusan, sebagai pemilik IP yang terdaftar, atau sebagai yang menerima akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual.
"Di Kementerian Ekraf, kami melihat ini sebagai tantangan kebijakan yang konkret: bagaimana memastikan karya perempuan terlindungi, terdokumentasi, dan bisa menjadi aset ekonomi yang nyata dan berkelanjutan," tuturnya.
Ayu mendukung perempuan mampu tampil untuk memperkuat perekonomian nasional. "Saya setuju sepenuhnya dengan pendapat bahwa perempuan dinilai mampu tampil untuk memperkuat sektor perekonomian nasional dan ini bukan sekadar retorika. Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan memiliki kendali atas pendapatan dan keputusan ekonominya, dampaknya berlipat ganda. ke keluarga, ke komunitas, ke pertumbuhan nasional," jelasnya.
Dalam, lanjutnya, konteks ekonomi kreatif yang sedang menjadi salah satu prioritas pemerintah, perempuan bukan hanya bisa memperkuat perekonomian, kami sudah melakukannya. "Tugas kita adalah memastikan kontribusi itu diakui, dilindungi secara hukum, dan difasilitasi agar bisa naik skala. Jadi bukan soal memberi ruang kepada perempuan, karena ruang itu sudah kami isi. Soalnya adalah apakah sistemnya sudah cukup mendukung kami untuk tumbuh lebih jauh," katanya.
Perempuan selama ini dinilai memegang peran penting dalam keluarga ketika akan traveling ke suatu destinasi wisata. "Ini fakta yang menarik dan sebetulnya sudah lama diakui di industri pariwisata global bahwa perempuan, terutama dalam kapasitasnya sebagai ibu atau manajer rumah tangga, ibarat chief travel officer keluarga. Perempuan yang riset destinasi, yang mempertimbangkan keamanan, yang mengatur itinerary, yang memilih akomodasi," tukasnya.
Maka, lanjutnya, dari perspektif ekraf dan pariwisata, ini punya implikasi besar: konten kreatif yang ditujukan untuk keputusan wisata, dari film pendek destinasi, konten media sosial, hingga desain experience, perlu dipahami dalam bahasa kepada perempuan, bukan hanya menampilkan perempuan sebagai objek visual. Ada peluang besar di sini untuk industri konten kreatif Indonesia yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Ayu ternyata menyimpan harapan untuk perempuan Indonesia. "Harapan saya sederhana saja, tidak muluk-muluk, tapi bisa saja berdampak besar, yakni saya ingin perempuan Indonesia tidak perlu lagi memilih antara berkarya dan diakui. Selama ini sering kali ada trade-off belum bisa dibilang adil, perempuan bisa berkarya, tapi pengakuan, perlindungan hukum, dan akses ekonominya belum sebagaimana yang diharapkan, belum setara," urainya.
Ayu mengatakan, di bidang yang dirinya tekuni sekarang, bidang kekayaan intelektual dan transformasi digital, ia berharap makin banyak perempuan yang menyadari bahwa karya kita adalah aset, bukan sekadar ekspresi.
"Bahwa mendaftarkan IP itu bukan birokrasi yang ribet, tapi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Dan bahwa transformasi digital bukan ancaman, tapi kendaraan, yang kalau dikendarai dengan benar, bisa membawa karya perempuan Indonesia sampai ke pasar global," tutupnya.

.jpg)
.jpg)