PATADaily.id - Jakarta - Ketika diskusi mengenai pengembangan pariwisata Indonesia, sorotan sering kali tertuju pada 10 Destinasi Pariwisata Prioritas mulai dari Danau Toba hingga Labuan Bajo.
Destinasi-destinasi ini memang berperan penting dalam meningkatkan kunjungan wisatawan, namun sesungguhnya hanya mewakili sebagian kecil dari kekayaan sejarah dan budaya Indonesia.
Di luar destinasi utama tersebut, terdapat Pulau Penyengat, sebuah pulau kecil namun sarat makna yang terletak di perairan Bintan, Kepulauan Riau.
Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi, Pulau Penyengat masih relatif luput dari narasi pariwisata nasional maupun internasional. Hal inilah yang menjadikannya sebagai salah satu hidden gem warisan budaya Indonesia.
Pusat Peradaban Melayu yang Hidup
Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah arsip hidup peradaban Melayu. Pulau ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau–Lingga, yang memiliki peran strategis dalam perkembangan politik, budaya, dan pemikiran Melayu pada abad ke-18 dan ke-19.
Lebih dari itu, Pulau Penyengat dikenal sebagai tempat lahir sastra Melayu modern. Di sinilah Raja Ali Haji, Pahlawan Nasional Indonesia, menulis Gurindam Dua Belas karya sastra filosofis yang hingga kini menjadi rujukan nilai moral dan budaya di dunia Melayu. Karya-karya kebahasaan beliau juga menjadi fondasi bagi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.
Warisan Budaya yang Berbicara Lembut, Namun Mendalam
:Menjelajahi Pulau Penyengat menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif," kata Ningsih Chandra, Sekretaris Jenderal PATA Indonesia dalam keterangan resmi, Selasa (6/1/2026). Pulau ini menyimpan berbagai peninggalan bersejarah, seperti masjid, makam raja-raja, benteng pertahanan, serta rumah-rumah tradisional Melayu yang berpadu dengan lanskap pesisir yang tenang, tambahnya.
Agus H Canny, Direktur Eksekutif PATA Indonesia menyampaikan bahwa ikon utama pulau ini, Masjid Raya Sultan Riau, yang dibangun dengan campuran putih telur, kapur, dan pasir, menjadi simbol kecerdikan, spiritualitas, dan ketangguhan masyarakat Melayu pada masanya. Berbeda dengan destinasi wisata massal, Pulau Penyengat menawarkan keaslian yang sunyi—ruang untuk belajar, merenung, dan terhubung secara bermakna dengan sejarah.
Relevansi Pulau Penyengat dalam Diskursus Pariwisata Masa Kini
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab, Pulau Penyengat menghadirkan contoh nyata pengembangan destinasi berbasis warisan budaya. Nilai-nilai yang diusungnya selaras dengan prinsip:
*Pelestarian budaya
*Pariwisata berbasis komunitas
*Wisata edukatif dan berpengalaman
*Kunjungan berdampak rendah namun bernilai tinggi
Ketiadaan Pulau Penyengat dalam daftar destinasi prioritas nasional seharusnya tidak dipandang sebagai keterbatasan, melainkan sebagai peluang strategis untuk meninjau ulang bagaimana Indonesia mengidentifikasi dan mengembangkan destinasi unggulan tidak semata berdasarkan jumlah kunjungan, tetapi juga pada nilai sejarah dan identitas.
Mengangkat Warisan Tersembunyi ke Panggung Global
Pulau Penyengat layak menjadi bagian penting dalam percakapan mengenai masa depan pariwisata Indonesia. Bukan sebagai pesaing destinasi prioritas, melainkan sebagai pelengkap narasi kebangsaan yang memperkaya citra Indonesia di mata dunia.
Di saat wisatawan global semakin mencari perjalanan yang bermakna, Pulau Penyengat mengingatkan kita bahwa kisah paling kuat sering kali hadir bukan di bawah sorotan utama, melainkan tepat di luar jangkauan cahaya tersebut. (Gabriel Bobby)

.jpg)
.jpg)