TRAVEL

N Rusmiati, Budaya Nusantara Dukung Pariwisata Indonesia

post-img

PATADaily.id - Batam - Penulis: Gabriel Bobby

Jelang perayaan HUT ke -81 RI yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”, maka sektor pariwisata pun harus diakui ikut memberikan kontribusi bagi Indonesia.

Adapun tema tersebut menjadi gambaran arah pembangunan nasional dengan menekankan nilai kemandirian bangsa, pemerataan keadilan, serta kesejahteraan masyarakat. 

Menariknya pariwisata dinilai memiliki peran penting dalam ikut membangun negeri ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP ASITA N Rusmiati kepada PATADaily.id, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, pariwisata memiliki karakter yang sangat kuat dalam menciptakan dampak ekonomi secara langsung di daerah, karena ketika wisatawan datang, yang mendapatkan manfaat bukan hanya hotel atau destinasi, tetapi juga UMKM, kuliner, transportasi, pemandu wisata, pelaku seni, hingga masyarakat yang menyediakan produk lokal.

Karenanya pariwisata yang berkualitas dan manfaatnya dapat dirasakan seluas mungkin oleh masyarakat. "Bukan hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga bagaimana wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan manfaat ekonominya berputar di masyarakat lokal.

"Pembangunan pariwisata juga harus memperhatikan karakter dan potensi masing-masing daerah. Desa wisata, misalnya, dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi alam, budaya, kuliner, maupun ekonomi kreatifnya sendiri," paparnya.

Ia mengatakan, pariwisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana kehadiran wisatawan ikut menciptakan kesempatan usaha, lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di destinasi.

Rusmiati menuturkan bahwa budaya adalah salah satu kekuatan terbesar Indonesia yang tidak dimiliki negara lain dalam bentuk yang sama.

"Kita memiliki begitu banyak tradisi, seni, kuliner, kerajinan, cerita, hingga kearifan lokal yang hidup di berbagai daerah. Semua itu dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat," terangnya.

Tentu, lanjutnya, harus memastikan bahwa ketika budaya dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata, nilai dan jati diri budaya tersebut tetap dijaga. 

"Masyarakat pemilik budaya harus menjadi bagian penting dalam prosesnya dan mendapatkan manfaat dari pengembangannya. Karena itu perlu mendorong agar budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan. Ketika wisatawan membeli kerajinan lokal, menikmati kuliner
daerah, menggunakan jasa pemandu lokal, atau menyaksikan pertunjukan seni, maka ada nilai ekonomi yang kembali kepada masyarakat".

"Inilah pariwisata berkualitas: pengalaman wisatawan semakin baik, sementara masyarakat di destinasi juga semakin sejahtera," ucapnya.

Rusmiati menyimpan harapan untuk Indonesia. Rupanya dirinya ingin negeri ini menjadi negara yang semakin maju dengan masyarakat yang semakin sejahtera, dan tetap memiliki jati diri yang kuat.

"Saya berharap pembangunan tidak hanya dirasakan di kota-kota besar, tetapi juga sampai ke daerah dan desa. Termasuk melalui pariwisata, kita ingin membuka semakin banyak kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang di daerahnya sendiri, salah satunya dengan pengembangan desa wisata di banyak daerah di Indonesia yang saat ini jumlahnya sekitar 6.300," paparnya.

Ia juga berharap generasi muda semakin bangga dengan Indonesia. "Bangga dengan budayanya, alamnya, produk lokalnya, dan juga berani memperkenalkannya kepada dunia," tegasnya.

Karena, lanjutnya, Indonesia punya modal yang luar biasa. "Tugas kita adalah merawatnya, mengembangkannya, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang," katanya.

Rusmiati mengemukakan bahwa untuk meningkatkan kunjungan wistawan mancanegara maka kualitas destinasi. "Wisatawan harus mendapatkan pengalaman yang baik, mulai dari akses, amenitas, atraksi, kebersihan, keamanan, sampai pelayanan," ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, harus terus menghadirkan pengalaman wisata yang unik dan autentik. Baginya, Indonesia tidak perlu menjadi seperti negara lain. 

"Justru kekuatan kita adalah alam, budaya, kuliner, dan keragaman yang memang kita miliki. Dam, promosi harus semakin tepat sasaran dan memanfaatkan kekuatan digital. Kita perlu menceritakan Indonesia dengan cara yang relevan dengan wisatawan saat ini dan menjangkau pasar yang memang memiliki
ketertarikan untuk datang ke Indonesia," urainya.

Dan, lanjutnya, yang tidak kalah penting adalah konektivitas. Menurutnya, semakin mudah wisatawan mencapai destinasi, maka emakin besar peluang mereka untuk datang dan menjelajahi lebih banyak wilayah Indonesia.

"Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), knjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Semester I-2026 mencapai 7,45 juta kunjungan (naik 5,71% YoY), sementara perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) menyentuh 630,41 juta perjalanan (naik 2,71% YoY).

Jadi, lanjutnya, pekerjaan rumah di sektor pariwisata bukan hanya bagaimana membuat wisatawan datang, tetapi bagaimana membuat mereka merasa nyaman, mendapatkan pengalaman yang berkesan, tinggal lebih lama, dan kemudian ingin kembali lagi ke Indonesia.

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side