MICE

Menuju 2027, MICE Salah Satu Kunci Pendorong Nilai Baru Pariwisata RI

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong pengembangan sektor Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) sebagai salah satu pengungkit untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dari aktivitas pariwisata sekaligus memperkuat daya saing destinasi Indonesia.

Dalam sambutannya pada Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 yang diselenggarakan Forwaparekraf di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, Kamis (24/9/2026), Wamenpar Ni Luh mengatakan kinerja pariwisata Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif.

Sepanjang 2025 lalu, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan Nusantara, sementara devisa pariwisata mencapai sekitar 18,27 miliar dolar AS. 

Tren positif tersebut berlanjut pada semester I 2026. Berdasarkan data BPS, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta kunjungan, tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Namun, menurut Wamenpar, pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kunjungan. Tantangan ke depan adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat diterjemahkan menjadi masa tinggal yang lebih panjang, belanja wisatawan yang lebih tinggi, pengalaman yang berkualitas, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Salah satu segmen yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan adalah MICE,” kata Wamenpar Ni Luh.

Berdasarkan data ICCA GlobeWatch Business Analytics – Country & City Rankings 2025, Indonesia mencatatkan 110 pertemuan asosiasi internasional. Capaian tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-37 dunia, ke-10 di Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN.

Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, ekosistem MICE dan bleisure, yakni perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi, juga teridentifikasi sebagai satu dari enam tren utama pariwisata nasional. Tren ini menunjukkan perjalanan bisnis semakin erat dengan aktivitas rekreasi dan pencarian pengalaman di destinasi.

Menurut Wamenpar, berbagai kegiatan MICE membuka peluang bagi peserta untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di destinasi. Setelah mengikuti kegiatan utama, peserta dapat menikmati wisata perkotaan, kuliner, kebugaran (wellness), berbelanja produk lokal, serta mengunjungi beragam daya tarik wisata di sekitar lokasi acara.

“Wisatawan yang datang untuk urusan bisnis atau menghadiri acara tidak lagi sekadar mengikuti konferensi, rapat, atau menyaksikan konser. Mereka juga ingin menikmati daya tarik daerah setempat, mulai dari berbelanja dan menikmati wisata kuliner hingga mengunjungi berbagai atraksi wisata. Hal inilah yang perlu kita perkuat integrasinya sehingga seluruh elemen tersebut saling terhubung menjadi satu ekosistem yang solid,” kata Wamenpar.

Oleh karena itu, pengembangan MICE di Indonesia ke depan perlu bertransformasi dari sekadar penyelenggaraan acara menjadi penciptaan pengalaman yang bernilai.

Pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat karakter destinasi, menggerakkan perekonomian lokal, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE global. Indonesia tidak hanya menawarkan tempat penyelenggaraan (venue), tetapi juga pengalaman khas dan berkesan yang menyertai setiap kegiatan.

Wamenpar menjelaskan dampak ekonomi sebuah acara juga tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Manfaat ekonominya mengalir ke berbagai sektor, mulai dari perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

Program Event by Indonesia sepanjang 2025, misalnya, tercatat menarik 12,20 juta pengunjung, melibatkan 20.877 UMKM, menyerap 257.561 tenaga kerja, serta menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp23,76 triliun.

“Ketika peserta datang, mereka menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja produk lokal atau oleh-oleh, dan mengunjungi daya tarik wisata di daerah tersebut. Karena itu, nilai sebuah event tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan atau ruang konferensi ditutup,” ujar Wamenpar.

Teknologi Perkuat Pengalaman Wisatawan

Pada kesempatan tersebut, Wamenpar turut menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dalam memasuki era Tourism 5.0. Pemanfaatan teknologi dinilai semakin penting untuk memberikan pelayanan dan pengalaman perjalanan yang relevan dengan kebutuhan wisatawan.

Salah satu implementasinya adalah pemanfaatan MaiA, platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada laman Indonesia.travel yang membantu wisatawan merencanakan perjalanan secara lebih personal.

Menurut Wamenpar, penguatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesiapan destinasi, konektivitas, serta kualitas sumber daya manusia.

Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi utama kegiatan bisnis (business events) di kawasan ASEAN sekaligus memastikan penyelenggaraan MICE memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi destinasi dan masyarakat.

“Nilai baru pariwisata Indonesia terletak pada kemampuan kita mengubah setiap acara menjadi pengalaman, dan setiap pengalaman menjadi nilai yang berguna,” kata Ni Luh Puspa.

Turut hadir mendampingi Wamenpar Ni Luh Puspa dalam acara tersebut Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini; Asisten Deputi Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi, dan Pameran Yohanes De Brito Titus Haridjati; Ketua Umum GIPI Haryadi BS Sukamdani; CEO ARTOTEL Group Erastus Radjimin; serta Ketua Forwaparekraf Tiara Maharani.

 

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side