PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
HUT ke-68 Adharta Ongkosaputra menjadi menarik lantaran dirinya menceritakan perjalanan hidupnya sejak lahir di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adharta mengaku pernah menetap di Kalabahii, Alor.
"Saya lahir 1 Juni 1958 silam dan besar di Alor. Kemudian ke Kupang, NTT, terus pindah ke Surabaya, Jawa Timuir, dan pindah ke Jakarta mulai 1975 lalu hingga sekarang," katanya kepada PATADaily.id, Selasa (2/6/2026).
Adharta menerangkan bahwa kita harus merayakan ulang tahuj karena mengingat peran seorang ibu yang melahirkan. "Peran mama melahirkan kita dengan susah payah, membesarkan kita, merawat kita," urainya.
Menurutnya, peran seorang ibu begitu besar dalam kehidupan setiap manusia sehingga perlu selalu diingar jasa dan peran seorang ibu dalam kehidupan kita masing-masing. "Tentunya kita bersyukur saat ulang tahun namun kita tidak boleh melupakan jasa dan peran ibu kita," jelasnya. "Kita harus ingat mama".
Kemudian, lanjutnya, menghitung hari kehidupan. Adharta menjelaskan, setiap hari dalam kehidupan saya. "Setiap hari kita menghitung hari," katanya.
Dan, lanjutnya, kemudian kita membuat 'buku'. "Buku tentang untung-rugi dalam kehidupan. Maksudnya untung adalah berapa banyak kita berbuat baik. Sementara rugi adalah apa yang kita buat tidak baik selama ini," urainya.
Ia mengemukakan bahwa sebaiknya dalam buku ini harus lebih banyak untung. "Saya lagi berusaha mencari untung," jelasnya. Adharta mengatakan, untung dalam kehidupan adalah semakin banyak teman.
"Saya selama ini punya teman di seluruh duna, world wide," katanya. Jadi, lanjutnya, semua yang datang adalah baik, Bonaventura. Sekalpun, lanjutnya, yang datang itu jelek sehingga saya beruntung semua teman banyak yang datang. "Bagaimana kita bisa mengubah teman yang jelek atau tidak suka sama kita menjadi berubah sehingga itu memberikan keuntungan bagi kita," paparnya.
"Pertemanan itu adalah sebagai sumber suka cita karena yang bantu kita pertama kali dalam kesuitan adalah teman," terangnya. Jadi, lanjutnya, semua teman itu adalah baik.
Dalam pertemanan itu, lanjutnya harus ada trust sebab kepercayaan itu penting sehingga hubungan pertemanan itu bisa berjalan baik dan percaya itu harus dilakukan minimal ada 2 orang saling percaya.
Kemudian, lanjutnya, ada empathy, yakni menempatkan diri dalam posisi orang lain sehingga bisa tercipta kepedulian bagi orang lain. Dan, tak hanya itu, karena masih ada associate, sehinggga semua masalah bisa diselesaikan bersama.
Jadi, lanjutnya, sesuatu tidak mungkin terjadi jika hanya sendiri sehinggga minimal ada 2 orang.
Tentunya, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa dilepaskan dari peran ayah. "Dalam menjalani kehidupan sehari-hari perlu ada kebijaksanaan, yang bijaksana adalah diperoleh dari ayah," ungkapnya.
Adharta menjelaskan bahwa kebijaksanaan yang pertama kali dilakukan oleh ayah untuk anaknya adalah mengenalkan dunia kepada anaknya.
"Saya mengucap syukur kepada Tuhan diberikan teman begitu banyak sehingga bisa menikmari hidup ini". Kemudian, lanjutnya, dalam kehidupan ada takdir dan nasib. "Takdir tidak bisa diubah sebab tidak bisa memilih kita lahir dari siapa, apakah keturunan raja atau orang yang sederhana," ujarnya.
Dan, nasib bisa berubah dengan perjuangan, kerja keras, mau belajar banyak mengenai berbagai hal dan berteman dengan banyak orang.
"Dalam kehidupan, harus memberikan bisa memberiikan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain sehingga bermanfaat untuk teman juga," paparnya.
Adharta tetap terlihat low profile sehingga dalam kehidupan sehari-hari, maka dirinya pun mengajak teman-temannya untuk berguna bagi orang banyak.
"Waktu terus berjalan sehingga kita harus berguna bagi orang banyak, dan tidak boleh mensia-siakan waktu agar waktu kita bisa bermanfaat, kita harus bisa menempatkan diri kita, maka kita harus belajar mengelola waktu karena waktu sangat berharga dalam hidup ini," jelasnya.

.png)