PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Budaya, menurut ilmu sosial dasar dari kata Budi dan Daya. Kilas balik ke masa lalu, Tradisi orang Jawa yang menjadikan "amba" artinya menulis tanpa "titik" merupakan Budi dan Daya atau budaya keseharian dalam bentuk gambar di atas kain mori.
"Itulah sejarah tentang batik yang terlahir di pulau Jawa dan kini menjadi identitas wilayah dan negara yang membanggakan kita semua," kata Halimah Munawir, pemilik Rumah Budaya HMA di Megamendung, Kabupaten Bogor.
Halimah yang juga sastrawati dan budayawati ini menjelaskan bahwa dalam buku Padmi, yang mengulas budaya jawa, Batik sebagai Wastra Nusantara juga di kupas. Mengapa? Menurutnya, tradisi membatik adalah investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa demi terwujudnya tujuan nasional sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
"Batik, saya sebut sebagai "perpustakaan berjalan" karena batik yang kita pakai sekarang atau pada acara-acara khusus, memiliki makna dan filosofi yang dalam baik yang ditulis dalam bentuk fauna maupun flora," ucapnya dalam keterangan pers resmi pada akhir pekan ini.
Jika, lanjutnya, kita lihat batik dipajang pada panel-panel, maka ia tampak megah bagai rembulan. "Batik dengan motif yang ada masing masing memiliki makna cerita. Seperti misal salah satunya batik parang yang lahir atas inspirasi Panembahan Senopati, Sultan Mataram 1, melambangkan simbol kekuatan sebagaimana huruf "S" yang tak terputus pada batik parang. Yang memakainya gagah berwibawa," tuturnya.
Jadi, lanjutnya, banggalah kita pada batik yang kita pakai, sebagaimana bangganya bangsa dan negara atas diakuinya Batik oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 silam. Dan pemerintah resmi menjadikan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

.png)