PATADaily.id - Yogyakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Kebaya selama ini dikenal merupakan representasi identitas bangsa. Di balik setiap motif, hingga cara mengenakannya, terdapat nilai kesopanan, keanggunan, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Hal tersebut disampaikan Febrina Intan, Direktur Utama InJourney Destination Management mengenai Hari Kebaya Nasional 2026. Menurutnya, kebaya bukan sekadar busana yang menjadi bagian dari ekosistem budaya yang harus terus dihidupkan.
"Kebaya tetap relevan, dikenakan dengan kebanggaan, diapresiasi lintas generasi Semakin sering kebaya hadir dalam berbagai ruang publik, aktivitas budaya, maupun kehidupan sehari-hari, maka semakin kuat pula identitas budaya Indonesia yang dapat kita wariskan kepada generasi mendatang sekaligus kita perkenalkan kepada dunia," jelas Febrina Intan, Direktur Utama InJourney Destination Management ketika dihubungi PATADaily.id, Kamis (23/7/2026).
Febrina mengatakan bahwa dirinya sebagai perempuan Indonesia sudah seharusnya terlibat dalam melestarikan kebaya yang merupakan bagian dari budaya Nusantara. "Perempuan menjadi garda terdepan dalam mewariskan nilai, tradisi, bahasa, seni, kepada generasi berikutnya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pelestarian budaya, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang penguatan peran perempuan sebagai agen pewaris sekaligus penggerak kebudayaan," ujarnya.
Pelestarian, lanjutnya, juga berarti memberikan ruang bagi budaya untuk terus hidup, berkembang, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya. Di sinilah perempuan memiliki
peran yang sangat penting, baik sebagai pelaku seni, perajin, desainer, pelaku UMKM, akademisi, pemimpin, maupun ibu dalam keluarga yang menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini.
"Di destinasi, kami melihat begitu banyak perempuan yang menjadi motor penggerak ekosistem budaya dan pariwisata. Mereka mengembangkan kriya, membatik, membangun usaha kuliner tradisional, menjadi pemandu wisata, mengelola sanggar seni yang memberikan manfaat ekonomi bagi keluarganya. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan serta saling menguatkan. Ketika semakin banyak perempuan mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan budaya, sesungguhnya kita tidak hanya melestarikan warisan masa lalu, tetapi juga sedang membangun masa depan kebudayaan Indonesia yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan," terangnya.
Febrina mengungkapkan bahwa dalam keseharian, dirinya cukup sering mengenakan kebaya, "Saya merasa kebaya bukan hanya sebuah pilihan busana, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa," katanya.
Namun, lanjutnya, saya juga percaya bahwa mengenakan kebaya tidak harus menunggu momen momen seremonial. Saat ini banyak sekali desain kebaya yang semakin adaptif, nyaman, dan sesuai dengan gaya hidup modern.
Hal ini menjadi peluang agar semakin banyak perempuan, khususnya generasi muda, merasa dekat dan bangga mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan," ucapnya.
Ia meyakini kebaya memiliki potensi besar sebagai bagian dari daya tarik pariwisata budaya Indonesia. Kebaya adalah salah satu representasi budaya Indonesia yang mampu menghadirkan pengalaman autentik di destinasi.
"Kehadiran kebaya sebagai bagian dari pengalaman wisata, baik melalui pertunjukan budaya, festival, pameran, aktivitas edukasi, maupun dikenakan oleh masyarakat dan pelaku wisata, akan memperkaya narasi yang diterima wisatawan. Mereka tidak hanya membawa pulang foto yang indah, tetapi juga pemahaman tentang kekayaan budaya Indonesia," urainya.
Menurutnya, pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO juga semakin memperkuat posisinya sebagai aset budaya yang memiliki daya tarik global. Ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mengangkat kebaya sebagai bagian dari diplomasi budaya dan promosi pariwisata Indonesia di tingkat internasional.
"Kami meyakini bahwa kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada perpaduan antara warisan budaya bendawi, seperti candi, dengan warisan budaya takbenda, seperti kebaya, seni pertunjukan, musik, tari, kuliner, dan tradisi masyarakat. Ketika seluruh elemen tersebut dihadirkan dalam satu pengalaman yang utuh, Indonesia tidak hanya menjadi destinasi yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi destinasi yang berkesan dan memiliki nilai budaya yang mendalam," paparnya.
"Harapan saya kebaya harus terus hidup, dikenakan dengan bangga, diwariskan kepada generasi muda, dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang dikandungnya. Momentum Hari Kebaya ini perlu kita manfaatkan untuk memperkuat ekosistem, mulai dari para perajin kain dan pembuat kebaya, pelaku UMKM, desainer, komunitas budaya, hingga generasi muda yang akan menjadi penerusnya," tukasnya.
Dengan demikian, lanjutnya, pelestarian kebaya tidak hanya menjaga identitas budaya bangsa, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi dan membuka peluang bagi industri kreatif serta pariwisata. Pada akhirnya, harapan terbesar saya adalah agar kebaya menjadi simbol kebanggaan nasional yang mampu menyatukan keberagaman Indonesia.
Sebab, katanya, di balik setiap helai kebaya, tersimpan cerita tentang sejarah, nilai-nilai luhur, kreativitas, serta jati diri bangsa yang patut kita jaga bersama dan kita wariskan kepada generasi mendatang. "Karena itu, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata bukanlah dua hal yang terpisah. Justru keduanya saling menguatkan. Semakin hidup budaya kita, semakin kuat pula daya saing pariwisata Indonesia di mata dunia," tutupnya.

.png)