PATADaily.id - Kanada - Tahun 2025 adalah tahun yang berat, demikian kata sebagian besar pengusaha dan juga masyarakat umumnya.
"Dagang sepi, harga-harga naik, bahan pokok susah, bencana dimana-mana, pabrik- pabrik relokasi atau gulung tikar sekalian, PHK merebak," tutur Jahja B Soenarjo, Ketua Umum CEO Business Forum Indonesia.
Kendati demikian, lanjutnya, Pemerintah tetap berupaya menjaga kondisi perekonomian dengan menampilkan begawan baru, Purbaya Yudi Sadhewo, yang gebrakan-gebrakannya hingga saat ini cukup berani.
Tak heran, muncul istilah Purbayanomics dengan asumsi dan pemikirannya yang akan diuji oleh waktu, apakah konsisten dan efektif, mengingat kondisi keuangan negara ini bila ingin jujur, sedang tidak sehat.
"Hutang luar negeri yang jatuh tempo besar, BUMN dikabarkan merugi (tapi dana dihimpun sudah ribuan trilyun), penerimaan pajak jauh target, ditambah pengeluaran tambahan untuk rehabilitasi pasca bencana," terangnya.
Menurutnya, situasi di atas masih ditambah dengan ancaman resesi global dan melorotnya pertumbuhan ekonomi dunia serta khususnya sejumlah negara penggerak ekonomi, seperti AS, China dan negara-negara Eropa.
"Pertumbuhan Indonesia sendiri finish di angka 4,97% untuk tahun 2025 dan ingin mengejar 5,2 hingga 5,4% dengan memanfaatkan momentum musiman di awal tahun," urainya dalam keterangan resmi, Selasa (6/1/2026).
Namun, lanjutnya, daya beli masyarakat menengah yang diandalkan sebagai penggerak konsumsi selama ini, mulai melorot. Ini berhubungan dengan sektor distribusi dan perdagangan ritel sebagai hilir daripada sektor industri yang otomatis mulai melakukan efisiensi untuk bertahan.
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja masih menjadi PR besar untuk menghadapi bonus demografi. Deregulasi harus digulirkan untuk menarik investasi asing yang mungkin masih ragu-ragu merealisasikan oleh karena banyak faktor di dalam negeri ini.
Jahja mengatakan, upaya penyelenggaraan program magang adalah solusi jangka pendek yang bagus, namun kelanjutannya kelak perlu dikaji kembali efektivitas pelaksanaannya, dengan harapan program ini banyak menyentuh pula lapisan UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan
Sejatinya semangat dan optimisme tetap perlu dijaga. Melempar kritik dan saran konstruktif kepada Pemerintah tetap harus dilakukan dan berharap mendapat respons positif untuk duduk bersama, tidak boleh ada jurang (gap) antara Pemerintah dan elite politik dengan masyarakat.
"Kami sendiri melalui CEO Business Forum Indonesia maupun bersama paravrekan yang tergabung di sejumlah organisasi non-politis, seperti APINDO, Perhimpunan INTI dan AFI, siap memberi masukan dan menjadi mitra kolaborator mendukung Pemerintah untuk program-program yang berorientasi kepada penguatan ekonomi serta kesejahteraan yang lebih baik dan merata bagi seluruh masyarakat," paparnya.
Jahja menambahkan bahwa peluang di tahun Kuda tetap ada, tinggal kita mampu berlari kencang ibarat sembrani atau sebaliknya kuda poni?. (Gabriel Bobby/dokumen foto: Arsip)

.jpg)
.jpg)