TRAVEL

Ramadan, Potensi Besar Wisata Ramah Muslim di Indionesia

post-img

PATADaily.id - Cirebon - Ramadan dinilai justru menjadi momentum penting dalam menguatkan ekosistem wisata ramah Muslim di Indonesia. Memang secara umum ritme perjalanan domestik bisa sedikit melambat di awal Ramadan, tetapi menjelang akhir Ramadan hingga periode Idulfitri, terjadi lonjakan pergerakan wisata yang sangat signifikan.

Mira, owner PT Agra Danapati Parama (ADP Trip) menjelaskan hal tersebut ketika dihubungi PATADaily.id, Kamis (5/3/2026). Ia mengemukakan hal tersebut terkait dengan Ramadan dan wisata ramah muslim di Indonesia. 

Selain itu, lanjutnya, Ramadan juga menciptakan kebutuhan khusus dalam layanan perjalanan, mulai dari hotel yang menyediakan sahur dan iftar, destinasi dengan fasilitas ibadah yang nyaman, hingga paket perjalanan religi.

Menurutnya, ini mendorong pelaku industri untuk semakin memperhatikan standar wisata ramah Muslim. "Saya melihat Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga momentum ekonomi dan pariwisata yang strategis jika dikelola dengan baik," urainya.

Mira mengatakan bahwa piotensi wisata ramah Muslim di Indonesia sangat besar. “Potensinya sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap maksimal. Indonesia memiliki keunggulan alami sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, didukung kekayaan budaya Islam, sejarah kerajaan Islam, pesantren, Masjid bersejarah, hingga tradisi keagamaan yang sangat kuat," terangnya.

Selain itu, Mira mengatakan, konsep wisata ramah Muslim sebenarnya tidak terbatas pada wisata religi saja. Ini juga mencakup halal food, fasilitas ibadah yang memadai, privasi, serta lingkungan yang nyaman bagi wisatawan Muslim.

Maka, lanjutnya, dengan positioning yang tepat, Indonesia bisa menjadi salah satu pusat halal tourism global, bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di level dunia.

Ia tak menampik ada gejolak di kawasan Timur Tengah saat ini bisa memengaruhi perjalanan wisatawan mancanegara. “Situasi geopolitik global tentu memengaruhi pola perjalanan wisatawan Muslim internasional. Ketika terjadi konflik di beberapa kawasan Timur Tengah, wisatawan cenderung mencari destinasi alternatif yang aman, stabil, dan tetap memiliki atmosfer ramah Muslim," jelasnya.

"Di sinilah peluang Indonesia terbuka sangat lebar. Kita dikenal sebagai negara yang relatif aman, stabil secara sosial, dan memiliki lingkungan yang nyaman bagi wisatawan Muslim," katanya.

Namun, lanjutnya, peluang ini harus direspons dengan kesiapan infrastruktur, promosi internasional yang kuat, serta standardisasi layanan halal tourism. "Kalau tidak disiapkan dengan baik, peluang itu bisa diambil oleh negara lain.”

Sebagai negara  dengan populasi Muslim terbesar di dunia, maka masyarakat Indonesia suka travelig di dalam negeri yang terkait dengan Islam. “Sangat suka. Tren wisata domestik berbasis religi terus meningkat, terutama untuk destinasi seperti wisata sejarah Islam, ziarah wali, masjid bersejarah, hingga kawasan dengan nuansa budaya Islam yang kuat," urainya.

Namun yang menarik, generasi muda sekarang menginginkan pendekatan yang lebih modern. Mereka tidak hanya ingin ziarah, tetapi juga pengalaman yang lebih komprehensif, seperti edukasi sejarah, wisata budaya, kuliner halal khas daerah, hingga spot yang estetik untuk dokumentasi perjalanan.

Artinya, wisata religi harus dikemas lebih kreatif agar tetap relevan dengan generasi sekarang. Potensi Indonesia terbuka lebar untuk membuka pintu bagi wisatawan Muslim internasional. “Sangat memungkinkan, bahkan sangat potensial. Pasar wisata Muslim global terus berkembang setiap tahun, baik dari Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara. Da, Indonesia memiliki semua modal utama: populasi Muslim besar, destinasi alam kelas dunia, budaya yang kaya, serta reputasi sebagai negara yang ramah," paparnya.

Jadi, lanjutnya, tinggal bagaimana kita memperkuat branding global sebagai Muslim-friendly destination, memperjelas standar halal tourism, serta memperluas promosi ke pasar internasional. "Kalau strategi ini dilakukan secara konsisten, saya optimistis Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama dalam industri wisata ramah Muslim dunia," tutupnya. (Gabriel Bobby)

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side