CULTURAL/HERITAGE

Jamu, Warisan Budaya Nusantara yang Mendunia dalam Kemasan Kekinian

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Jahja B Soenarjo, seorang pencinta jamu

Musim hujan masuk angin, pasti minum jamu penolak masuk angin. Badan letih dan pegal, seduh jamu untuk pegal linu. Untuk perempuan datang bulan pun ada racikan khusus. Itulah jamu, warisan budaya Nusantara yang pantas dilestarikan.

Jamu memang sangat unik sebagai minuman tradisional Nusantara yang sudah dikenal berabad-abad lampau sebagai pengobatan tradisional di lingkungan kerajaan-kerajaan Jawa. Menurut sebagian orang asal muasal kata “jamu” sendiri diketahui sebagai gabungan dari “Jawa” dan “Ngramoe” (meramu atau meracik).

Namun ada juga pendapat bahwa “djamoe” berasal dari “djampi” atau doa, dan bila dikonsumsi secara konsisten, akan memberi kesehatan (husodho).

Jamu yang telah banyak dikenal sejak abad 14 atau mungkin sebelumnya, adalah warisan budaya dengan makna yang mendalam dibalik setiap proses, mulai dari pemilihan bahan, peracikan dan penyeduhan secara tradisional.

Bahkan bila dipelajari lebih jauh, peracik jamu untuk kerajaan di zaman dahulu, bukanlah orang sembarangan, ibarat tabib yang terpilih dan bertanggung jawab. Maklum, sekolah kedokteran belum ada

Acaraki adalah sebutan khusus peracik jamu di lingkungan kerajaan atau keraton dan dianggap memiliki keahlian khusus, seperti halnya barista yang harus menguasai teknik menyeduh kopi. Bedanya, acaraki harus memahami setiap bahan yang digunakan dan manfaatnya, sementara di industri jamu memiliki beragam jenis bahan baku tanaman obat yang harus diracik dengan tepat untuk memperoleh khasiat yang dikehendaki.

Untuk rasa, secara umum pasti pahit, tetapi setidaknya kita mengenal beberapa bahan dasar utama : kunyit asam, beras kencur, cabai puyang, pahitan, uyup-uyup, gepyokan, hingga sinom.

Saat ini Acaraki telah menjadi merek jamu yang diusung PT Acaraki Nusantara Persada besutan Jony Yuwono mencoba mengusung tema kekinian. Suasana kafe dengan sajian jamu secara moderen akan mengajak generasi muda ikut melestarikan budaya yang sudah ditetapkan UNESCO menjadi warisan budaya tak benda di bulan Desember 2023.

Kafe Acaraki telah tersebar di beberapa tempat dan produknya pun sudah dapat dijumpai dalam kemasan kalung siap minum hingga kapsul yang siap merambah pasar ekspor.  

Tak salah bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 27 Mei 2008, sebagai Hari Jamu Nasional. Jamu memang warisan budaya yang bukan hanya harus dilestarikan, namun juga menjadi bagian dari pola hidup sehat masyarakat Indonesia.

Sore itu saya seruput sajian istimewa jamu Bereskrim kafe Acaraki di Kota Tua Batavia sambil menikmati sajian karya musik berjudul "Shadow of the Light", sebuah proyek kolaborasi seni perpaduan lagu, cerita, dan film pendek di ruang istimewa bersama sang pemilik, Jony Yuwono yang mengajarkan saya menulis nama saya dalam aksara Jawa. 

Mari men-jamu!

 

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side