Destination

Cerita Alifa Arifiani Samantiningrum tentang Boarding School

post-img

Perjalanan 11 tahun PATADaily.id yang terus bertumbuh dan menginpirasi  berupaya memberikan sesuatu yang baru bagi pembaca.

Kini ada Gen Z Bicara. Adalah Alifa Arifiani Samantiningrum, mahasiswi President University mengungkapkan pengalaman menarik dan kisah seru selama dirinya berada di boarding school.

Voice from behind the prejudice. ‘Kalau mau nikah muda mah tinggal masuk aja ke pesantren, nanti juga dinikahin Kyainya’. Waduh... adik-adik, teman-teman dan kakak-kakak pasti sudah familiar banget sama statement itu, karena statement itu cukup populer di media sosial sekarang dan statement tersebut juga lahir dari kesimpulan yang ditarik masyarakat setelah berita-berita kejadian yang sangat tidak pantas yang terjadi di lingkungan pendidikan pesantren, yang bahkan dilakukan oleh seorang guru yang harusnya memberi suri tauladan.

Jadi, lanjutnya, persepsi yang terbentuk di masyarakat sebagai respons dari berita-berita tersebut juga cukup valid,

Tapi apakah semua pesantren begitu?
Sebagai anak boarding school, jujur aku sedih sih karena stereotip pesantren di masyarakat masih buruk apalagi karena oknum manusia bejat jadi pesantrennya yang kena, karena tidak semua pesantren itu problematik dan kolot.

Dan lucunya, di balik stereotype “pesantren isinya anak-anak yang dikekang” itu, kehidupan di boarding school justru seringkali lebih padat daripada kehidupan orang kantoran.

Spoiler dikit ya dari “inside life” anak pesantren.
Jam 3 pagi, sebagian dari kami sudah bangun buat tahajud. Belum selesai ngantuk, lanjut subuh berjamaah, terus tahfidz atau murajaah. Setelah itu ada pembagian vocabulary dan yes, terkadang kami literally harus hafal kosa kata baru setiap hari karena komunikasi sehari-hari diwajibkan pakai English dan Arabic.

Jadi kalau ada yang mikir anak pesantren cuma duduk manis sambil ngaji, hmm... ot really. Pagi lanjut sekolah formal seperti biasa. Ketemu matematika, ekonomi, biologi, tugas numpuk, presentasi, remedial lengkap. 

Setelah dhuhur, kelas lanjut lagi sampai ashar. Belum selesai juga, karena Selasa dan Sabtu biasanya ada ekskul wajib. Malam? Masih ada Maghrib berjamaah, Isya, belajar malam, doa malam, sampai piket asrama.

Dan semua itu berjalan berulang. Dari pagi ketemu pagi lagi.
Capek? Banget.
Pernah nangis diem-diem di kamar mandi? Dijemuran? Sering.
Pernah pengen pulang karena homesick? Hampir semua anak boarding school pernah.

Tapi justru di situ banyak hal terbentuk.
Kami belajar hidup jauh dari orang tua di usia yang belum benar-benar dewasa. Belajar disiplin bahkan ketika tidak ada yang nyuruh. Belajar menghargai waktu karena telat lima menit aja bisa jadi masalah panjang (karena semua ada bel dan kalau telat??? yah dapat sanksi). Belajar hidup berdampingan dengan banyak kepala, banyak sifat, banyak ego,
dalam satu kamar yang bahkan kadang privasinya nyaris tidak ada.


Dan anehnya… di tengah jadwal yang sepadat itu, banyak anak pesantren justru tumbuh
jadi pribadi yang hangat, suportif, dan kuat.
Makanya kadang sedih ketika seluruh pesantren disimpulkan hanya dari ulah beberapa
oknum. Karena di balik tembok-tembok asrama itu, ada ribuan anak yang sedang berjuang
jadi versi terbaik dirinya meski seringkali perjuangannya tidak pernah benar-benar dilihat
orang luar.

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side