PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Budaya dan tradisi sering kali diperlakukan bak benda pusaka; dikagumi, disimpan, dan dirawat, namun asing dalam keseharian. Di tengah laju modernitas, tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar merawat peninggalan masa lalu, melainkan memberi "daya hidup" baru agar tradisi mampu beradaptasi dan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akarnya.
Setelah sukses merevitalisasi jamu melalui konsep jamu experience cafe , Acaraki, pionir kafe jamu dengan tekhnik kontemporer, kini melangkah lebih jauh. Melalui proyek revitalisasi , Acaraki, menghadirkan sebuah video musik bertema wayang kulit yang berjudul "Shadow of The Light".
Langkah ini bukan sekadar pelestarian simbolis, melainkan sebuah metamorfosis budaya yang utuh untuk menghidupkan kembali esensi "per-Jamu-an" Nusantara yang memadukan kelezatan kuliner, keindahan musik, tarian, dan seni pertunjukan.
Karya ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi lama dapat beradaptasi dan tampil memikat dalam balutan modernitas tanpa kehilangan akarnya. Selain Shadow of The Light, Acaraki juga memprakarsai beberapa project revitalisasi lain, seperti Aksara Nusantara, Angklung Selayang, Arsir Batik, Kaligrafi Aksara Nusantara, Kereta EV Kencana dan Angklung Elektronik.
Kolaborasi Seni dan Mahakarya Lintas Budaya
Shadow of The Light adalah musik video dengan tema wayang. Acaraki sengaja memilih wayang sebagai tema utama karena wayang adalah salah satu warisan budaya tak benda Dunia dari Indonesia yang wajib dilestarikan.
Dibalik kesuksesannya, "Shadow of The Light" melewati proses produksi yang matang selama hampir 1 tahun. Berawal dari ide Jony Yuwono, inisiator, produser eksekutif sekaligus original storywriter Shadow of The Light. Ia kemudian menggandeng komposer musik berbakat Elwin Hendrijanto serta rumah produksi Batavia Pictures di bawah arahan sutradara Tono Wisnu.
Konsep musik Shadow of The Light menggabungkan kemegahan musik orkestra dengan gamelan lengkap (kendang, bonang, saron), serta perpaduan gaya vokal pop dari penyanyi Vera Anastasia dengan cengkok sinden Retno Pangestu.
Liriknya pun mengintegrasikan Wangsalan Jawa dengan lirik berbahasa Inggris. Video musik Shadow of The Light menunjukan detail proses pembuatan wayang kulit yang menunjukkan kekuatan craftmanship Indonesia, dari kulit sapi yang dikeringkan, dikerok utk dibersihkan dan ditatah.
Shadow of The Light juga menunjukkan detail penampilan wayang kulit tradisional yang tidak banyak diketahui orang, di mana penonton hanya melihat sepetak layar dan bayangan dari wayang, dalang, gamelan dan sinden semua bersembunyi di balik layar.
Dalam video musik ini , juga mempelihatkan berbagai elemen dalam pertunjukan wayang kulit seperti komposisi gamelan yang lengkap (kendang, bonang, saron, dan lain lain) dan para sinden.
Apresiasi dan Pengakuan Internasional
Meski mengangkat tema lokal yang kental, "Shadow of The Light" telah berhasil mencuri perhatian dunia dengan meraih banyak penghargaan dan menang di berbagai festival film internasional, antara lain Liverpool Film Festival (2024), Global Music Awards (Taiwan 2024) , Los Angeles Movie & Music Video Awards (2024), Goa Short Film Festival ( India 2024) , New Harvest Film Festival (2024), Best Shorts Competition (Amerika Serikat 2024) ,Bangkok Movie Awards (2024), New York International Film Awards™ - NYIFA (2024), UNICA KOREA International Film Festival (2024) , SEAiff (Australia 2024) , International Thai Film Festival (2024), International Film Festival The Hague (2024) , Experimental, Dance Music Film Festival (Los Angeles 2024), London Music Video Festival (2024), PopCon International Film Festival (Amerika Serikat 2025), Flickers' Rhode Island International Film Festival (Amerika Serikat 2025), Golden Harvest Film Festival (Jepang 2025), BonDance International Film Festival (Jepang 2025), 7th Mosaic International Film Festival of Arts and Culture (Canada 2025), Japan World's Tourism Film Festival (2025) dan masih banyak lagi.
Menonton Sambil Berdonasi untuk Masa Depan Wayang
Sebagai komitmen nyata terhadap keberlanjutan budaya, Acaraki Journey mengajak masyarakat luas untuk ikut berkontribusi. Untuk setiap satu "Like" pada video "Shadow of The Light" di platform YouTube, Acaraki akan mendonasikan Rp1.000 (hingga maksimal Rp1 miliar). Seluruh dana yang dikumpulkan dari gerakan ini akan disalurkan ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia khusus untuk mendanai penelitian dan pengembangan wayang kulit.
Mari ikut ambil bagian dalam gerakan budaya ini dengan menonton dan memberikan dukungan langsung untuk bersama sama kita ”men-Jamu” dunia dan menghidupkan kembali warisan budaya Nusantara. Saksikan Video dan Music ”Shadow of The Light” melalui link YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=ODFS0Vqgkqk.

.png)