TRAVEL

"Nyari 2 Orang lagi Susah biar Komplet 15 Orang"

post-img

Nyari 2 orang aja biar komplet 15 orang susaaah beud dah .

Oleh: Djohari Somad, pemerhati pariwisata.

Belakangan ini ada satu hal yang makin terasa buat pelaku travel agent: mau nambah satu-dua orang aja supaya satu grup bisa berangkat, sekarang susah.

Misalnya satu paket tour minimal 15 orang. Sudah dapat 13, tinggal cari dua lagi. Kelihatannya gampang. Ternyata enggak juga.

Ada yang tertarik tapi masih hitung-hitungan. Ada yang nunggu gajian, ada yang nunggu promo, ada yang tadinya mau ikut, eh akhirnya batal.

Buat travel agent, kurang dua orang bukan cuma kehilangan dua peserta. Bus tetap harus dibayar, guide tetap jalan, dan biaya lainnya juga enggak banyak berubah.

Peserta kurang =  Kerja Bakti. 

Nah, pertanyaannya: memang industri pariwisata sekarang lagi susah?

Orang Masih Jalan-Jalan
Kalau lihat statistik, sebenarnya orang masih banyak jalan-jalan lho

Wisatawan Q1 2026       Q2 2026
Wisnus       319,51 juta 310,90 juta
Wisman        3,44 juta        4,02 juta
(Sumber: BPS, 2026; diolah).

Jadi masalahnya orang bukannya enggak jalan., tapi cara beli perjalanannya  yang berubah.

Contoh gampangnya turis Malaysia datang ke Jakarta dan Bandung.
Tiket Kuala Lumpur–Jakarta beli sendiri. Hotel booking sendiri. Di Jakarta sewa mobil sendiri. Mau ke Bandung naik Whoosh, tiket beli sendiri. Hotel Bandung pesan sendiri. Mau ke tempat wisata tinggal datang atau beli tiket online.
Itinerary? Sekarang bisa dibuat sendiri pakai AI.
Turisnya tetap datang. Tetap tercatat sebagai wisman. Duitnya juga tetap dibelanjakan di Indonesia. 

Tapiiihhhhhh…. Gak beli lewat kita pemirsah.

selain itu masyarakat Indonesia Makin Hitung-hitungan

Ada masalah lain yang gampang dirasakan sehari-hari: duit sekarang rasanya lebih cepat habis.
Ekonomi Indonesia memang tumbuh 5,11% pada 2025. Tapi rata-rata upah buruh Februari 2025 cuma naik 1,78%. Inflasi Desember 2025 mencapai 2,92%, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,58%.

Indikator Perubahan
Pertumbuhan ekonomi 2025 +5,11%
Kenaikan rata-rata upah buruh +1,78%
Inflasi +2,92%
Makanan, minuman & tembakau +4,58%
(Sumber: BPS, 2025–2026)

Bahasa gampangnya gini,  Belanja dapur naik, sekolah bayar, listrik jalan terus, transportasi ada, cicilan juga enggak mau ngerti.
Yang akhirnya lebih gampang dikurangi atau ditunda ya jalan-jalannya.
Kalaupun tetap pergi, mulai diakalin. Tadinya empat hari jadi tiga hari. Hotel bintang empat turun ke bintang tiga, kalo enggak nginep sirumah sodara. Tiket cari promo. Atau semuanya diurus sendiri.
Jadi sebenarnya orang masih pengin liburan. Cuma sekarang mikirnya lebih panjaaaaang 

Data transportasi 2025 juga menarik.
Transportasi Perubahan 2025
Pesawat domestik −5,82%
Kereta api +8,88%
Angkutan laut +16,48%
(Sumber: BPS, Statistik Transportasi 2025.)
Bukan berarti semua orang pindah dari pesawat ke kereta atau kapal karena harga. Penyebabnya bisa macam-macam.
Tapi satu hal kelihatan: cara orang bepergian memang berubah.
Jadi jumlah perjalanan yang tinggi belum tentu omzet pelaku pariwisata ikut tinggi.
Pemerintah Juga Ngerem Perjalanan dan Meeting

Ada pasar besar lain yang ikut berubah terutama yang sering melayani : pemerintah.

Perjalanan dinas dan meeting dan lain lain 
Dari pengolahan LKPP 2024 Audited Kementerian Keuangan dan APBD/SIPD 2024 Kementerian Dalam Negeri, skala indikatif belanja perjalanan dinas, meeting, konsumsi rapat, dan kegiatan pemerintah domestik mencapai sekitar:
Rp109,64 triliun setahun
Rp9,14 triliun sebulan
±Rp299,56 miliar sehari (What ? 300 miliar perhari…..?)

Kalau dibandingkan dengan estimasi total pengeluaran wisnus dan wisman yang kita pakai sebagai pembanding, skalanya sekitar 5%.
Lima persen ? kedengarannya kecil. Tapi kalau nilainya lebih dari Rp100 triliun setahun, beuuuh… guedeeee beuud ituuuh.
(Sumber: LKPP 2024 Audited, Kementerian Keuangan RI; APBD/SIPD 2024, Kementerian Dalam Negeri; statistik ) 

pengeluaran wisatawan BPS/Kementerian Pariwisata; diolah. Angka Rp109,64 triliun dan sekitar 5% merupakan perhitungan indikatif.
Dulu rapat bisa dua-tiga hari di hotel. Peserta datang dari daerah, ada tiket, kamar hotel, bus, ruang meeting, makan, coffee break, EO, sampai travel agent.
Sekarang bisa simpel:
“Zoom aja.”
Atau:
“Rapat di kantor aja.”
Hotel kehilangan kamar dan meeting. Maskapai kehilangan penumpang. Rental mobil kehilangan order. Restoran dan katering berkurang. EO dan travel agent juga ikut kehilangan transaksi. Pemasok sayur, buah dan lain lain ke hotel, bener bener amsyoong….

Jadi, Apa yang Lagi Terjadi?
Sebenarnya orang masih jalan-jalan. Wisatawan masih banyak.
Cuma masyarakat sekarang makin hitung-hitungan. Harga makin sensitif. Orang makin gampang ngurus perjalanan sendiri. Sementara perjalanan dinas dan meeting pemerintah juga ikut direm.
Makanya statistik bisa kelihatan bagus, 

sementara orang travel di lapangan bilang:
“duhh… nambah 2 pax aja susah beud yak …
Dua-duanya bisa benar.
Statistik menghitung orang yang jalan. Pelaku travel menghitung orang yang beli.
Orang masih jalan-jalan. Yang berubah itu isi dompetnya, cara belinya, dan ke mana si duit itu ngalir

(tulisan diatas pendapat saya, lho, Anda boleh saja berbeda)

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side