TRAVEL

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Paparkan Tren Pariwisata 2026

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Seiring dengan dinamika preferensi wisatawan global dan domestik, keterlibatan langsung wisatawan dengan kehidupan masyarakat lokal saat ini telah menjadi tren yang signifikan dalam pengalaman perjalanan wisatawan ke berbagai destinasi wisata di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa kepada PATADaily.id di Jakarta, Senin (26/1/2026). "Kami telah mengamati kemunculan tren ini pada tahun 2025 dan diperkirakan akan terus berlanjut serta berkembang pada 2026. Tren ini juga teridentifikasi di beberapa negara di ASEAN lainnya, seperti Thailand yang menangkap sinyal serupa dari wisatawan Tiongkok," terangnya.

Wakil Menteri Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa dalam mengadaptasi perubahan pola perjalanan wisata global tersebut, kalangan ahli dalam Expert Survey Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2025/2026 menyebutkan ada 6 tren wisata di Indonesia yaitu Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, Nature and Adventure-Based Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, Wellness Tourism, dan Bleisure.

Ia mengemukakan, tren industri pariwisata menunjukkan bahwa pola perjalanan saat ini tidak lagi sekadar kunjungan ke atraksi atau landmark, tetapi beralih pada pencarian pengalaman yang autentik, bermakna, dan terintegrasi dengan kehidupan lokal. 

Salah satunya, lanjutnya tren wisata cultural immersion atau pendalaman budaya yang diprediksi semakin menjadi primadona di kalangan wisatawan di Indonesia. "Cultural immersion atau pendalaman budaya yakni tren wisata dimana wisatawan mencari pengalaman pengalaman yang  autentik, bermakna, dan berkelanjutan tetapi juga berinteraksi langsung dengan budaya, tradisi, serta aktivitas keseharian masyarakat setempat," paparnya. 

Wakil Menteri Pariwisata menyebut bahwa tren ini menunjukkan pergeseran dari wisata konvensional ke pengalaman yang lebih partisipatif dan bermakna. "Wisatawan kini mengutamakan interaksi komunitas lokal, tinggal di penginapan yang dikelola masyarakat (homestay), serta berkegiatan yang memberi pemahaman lebih dalam terhadap budaya dan lingkungan setempat," ujarnya. 

Menurutnya, Indonesia dinilai memiliki peluang besar melalui desa wisata seperti Nglanggeran, Tamansari Banyuwangi, Tetebatu Lombok Timur, dan Wae Rebo Manggarai.

Tak hanya itu, lanjutnya, pariwisata ramah lingkungan atau eco-friendly tourism kini menjadi tren yang semakin menguat, seiring meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap keberlanjutan lingkungan. 

"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan tren ini, mengingat kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang menjadi keunggulan utama destinasi pariwisata nasional," katanya.

Wakil Menteri Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa tujuan dari eco-friendly tourism adalah meminimalkan dampak negatif aktivitas pariwisata terhadap lingkungan dan masyarakat lokal, sekaligus mendorong kesadaran serta praktik wisata yang bertanggung jawab, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

"Kesadaran ini tercermin dari preferensi wisatawan yang semakin selektif dalam memilih destinasi, fasilitas, dan aktivitas wisata," ucapnya.

Wisatawan pun, lanjutnya, mulai mengutamakan akomodasi bersertifikat ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang terintegrasi, serta kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. 

Selain itu, menurut Wakil Menteri Pariwisata ini, minat terhadap aktivitas wisata yang mendukung konservasi dan pemulihan ekosistem seperti penanaman pohon, pemantauan satwa liar, dan restorasi terumbu karang terus meningkat dan menjadi bagian penting dari arah pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Ni Luh Puspa menjabarkan bahwa menurut State of Travel Report (Skift, 2025) tiga dari empat wisatawan menimbang dampak ekologis saat merencanakan dan menjalani liburan. "Jawabannya bukan sekadar mengurangi jejak, melainkan memulihkan alam dan budaya lokal melalui interaksi dengan penduduk setempat dan pemulihan lingkungan," jelasnya. 

Bahkan, lanjutnya, sumber yang sama menyebutkan jika empat dari lima wisatawan akan mengubah pilihan perjalanan karena over tourism, yang mengindikasikan jika daya lenting (resiliensi) dari destinasi itu sangat penting bagi wisatawan.

Maka, lanjutnya, hal ini sejalan dengan semangat pariwisata Indonesia dalam yang terus berinovasi dalam pengembangan di destinasi. "Pariwisata Indonesia memasuki fase strategis dengan menetapkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sebagai pilar utama pembangunan dalam RPJMN 2025–2029. Fokus kebijakan diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan daya saing sektor, melalui penguatan tata kelola destinasi, peningkatan kualitas layanan, dan pemanfaatan potensi ekonomi lokal secara optimal," paparnya.

Baginya, berbagai dinamika di sektor pariwisata sepanjang tahun 2025 menunjukkan perlunya penguatan efektivitas kebijakan. Ia mengatakan, sejumlah peristiwa seperti banjir di Bali, degradasi ekosistem di Raja Ampat, serta kecelakaan di beberapa lokasi wisata menegaskan pentingnya penguatan koordinasi lintas sektor, penerapan standar keberlanjutan, dan pengawasan terpadu sebagai landasan bagi pembangunan pariwisata nasional yang tangguh dan berkelanjutan.

"Ketertarikan wisatawan terhadap destinasi alam sangat tinggi dan terus berkembang. Wisata alam saat ini bukan hanya pilihan sekunder, tetapi telah menjadi preferensi utama bagi banyak wisatawan, didorong oleh keinginan untuk menikmati keindahan alam, aktivitas outdoor, serta pengalaman wisata yang lebih sehat, autentik, dan berkelanjutan," urainya.

Salah satu, lanjutnya, indikator dari tren ini adalah meningkatnya ketertarikan wisatawan terhadap aktivitas mendaki gunung maupun bukit, baik pada jalur yang relatif mudah hingga gunung dengan tingkat tantangan tinggi. 

"Destinasi seperti Gunung Rinjani, Gunung Batur, dan Gunung Bromo diprediksi terus menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini membawa implikasi penting bagi kita, khususnya dalam aspek keamanan dan keselamatan wisatawan. Aktivitas pendakian memiliki risiko yang harus dikelola secara serius, mulai dari kesiapan fisik wisatawan, kondisi cuaca, kapasitas pemandu, infrastruktur dasar, hingga kesiapan sistem penanganan darurat," terangnya.

Hal ini, lanjutya, membuka peluang besar bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan dan konservasi di berbagai destinasi alam Indonesia. Ia mengemukakan bahwa ren ini tercermin dari tingginya kunjungan ke destinasi berbasis alam dan desa wisata di berbagai daerah.

Menurut Ni Luh Puspa, Gastronomy Tourism semakin berkembang sebagai bagian penting dari tren pariwisata di Indonesia seiring dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman yang autentik. 

"Wisata kuliner tidak lagi sekadar menjadi aktivitas pendukung perjalanan, namun telah menjadi primary travel motivation bagi segmen wisatawan tertentu. Tren ini diprediksi akan terus berkembang sebagai salah satu pilar pariwisata kreatif di Indonesia dan sejalan dengan keberlanjutan global," ungkapnya.

Dalam perkembangannya Wakil Menteri Ni Luh melihat saat ini (2025–2026), wisata gastronomi di Indonesia semakin mengarah pada pendekatan experiential, immersive, dan sustainable dimana wisatawan tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga terlibat langsung dalam prosesnya, seperti mengikuti kelas memasak masakan daerah, berkunjung ke pasar tradisional, kunjungan ke produsen makanan primer dan sekunder (kecap, garam), festival dan pameran, bertemu petani dan ke pasar, belajar tentang rempah lokal, makan bersama masyarakat setempat di desa wisata, hingga aktivitas yang berdampak langsung terhadap lingkungan pada masyarakat lokal seperti penanaman pohon/tumbuhan dalam rangka mengurangi jejak karbon. 

Menurutnya, pola ini sejalan dengan tren cultural immersion, di mana kuliner menjadi medium utama interaksi antara wisatawan dan komunitas lokal, namun juga sejalan dengan pelestarian alam 
serta lingkungan, (wisata gastro-cultural di Muaro Jambi).

"Aktivitas seperti ikut menanam, memanen hasil pertanian,  memasak makanan tradisional, hingga makan bersama masyarakat lokal menjadi bagian dari pengalaman experience-based tourism dan cultural immersion yang semakin diminati," paparnya.

Selain itu, dalam pengamatan Ni Luh Puspa, ppenggunaan wadah dan dekorasi alat makan pada wisata gastronomi pun semakin berkembang ke arah tren sustainable tourism (ramah lingkungan) seperti penggunaan daun pisang sebagai pembungkus camilan, kotak anyaman bambu/rotan sebagai tempat lauk, botol minum kaca isi ulang, sedotan berbahan tepung (beras dan tapioka) yang turut berkontribusi pada pengurangan llimbah sampah dapur.

"Kami melihat bahwa paket wisata yang mengajak wisatawan menanam, memanen, hingga memasak, terus berkembang dan semakin diminati, khususnya oleh wisatawan mancanegara. Destinasi seperti Bali menjadi contoh kuat, di mana wisatawan asing tidak hanya tertarik mencicipi makanan lokal, tetapi juga ingin memahami proses, filosofi, dan budaya di balik kuliner tersebut," urainya. 

Jadi, lanjutnya, bagi wisatawan mancanegara, pengalaman ini memberikan nilai tambah yang tinggi dan menjadi diferensiasi Indonesia di pasar global.

Sementara itu, wisatawan Nusantara diprediksi akan menunjukkan minat yang kuat terhadap wisata kuliner, baik melalui eksplorasi makanan khas daerah/tradisional, makanan yang viral, maupun pengalaman makan bersama yang menghadirkan unsur kebersamaan dan budaya.

"Kuliner tetap menjadi salah satu motivasi utama perjalanan wisatawan Nusantara. Wisata kuliner dan gastronomi dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi lokal yang inklusif," katanya.

Wakil Menteri Ni Luh menjelaskan bahwa wisatawan saat ini tidak hanya memandang piknik sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat melalui tren Wellness Tourism.

"Wisata Kebugaran atau Wellness Tourism diperkirakan menjadi tren pariwisata yang terus berkembang pesat di dalam maupun luar negeri," ucapnya.

Menurut Ni Luh Puspa, perkembangan tren Wellness Tourism didorong oleh meningkatnya pergeseran gaya hidup wisatawan menuju keseimbangan dan kesadaran diri. "Aktivitas wisata tidak lagi hanya diposisikan sebagai pelarian, melainkan sebagai ruang pemulihan dan refleksi. Fokus utama dari wellness adalah peningkatan fisik, mental, dan spiritual secara holistik. Perubahan gaya hidup ini mendorong berkembangnya destinasi wisata yang menawarkan pengalaman rekreasi sekaligus kebugaran secara terpadu," terangnya.

Tren ini, lanjutnya, menjadi peluang strategis bagi pengembangan destinasi di Indonesia. Peluang pengembangan wellness tourism telah dimanfaatkan oleh beberapa destinasi melalui program seperti:
- Bali: berbagai pelaku usaha menawarkan paket wellness yang  mencakup perawatan spa tradisional, yoga, meditasi, dan terapi aromaterapi yang holistik. 
- Jakarta dan Jawa Barat: berbagai usaha menyediakan layanan spa alami dan organik lengkap dengan fasilitas yoga dan pilates untuk wisatawan yang ingin menjalani wellness break.
- Jawa Tengah: seperti di Kabupaten Karanganyar menonjolkan wellness berbasis aromaterapi dan edukasi mengenai tanaman atsiri, menggabungkan unsur rekreasi, kesehatan, budaya, dan edukasi dalam satu pengalaman.

"Melihat potensi besar Wellness Tourism ini, Kementerian Pariwisata telah meluncurkan program Wonderful Indonesia Wellness sebagai strategi peningkatan kelas pariwisata nasional. Surakarta dan Yogyakarta dipilih sebagai destinasi percontohan. Keduanya memiliki warisan budaya dan spiritual yang kaya, sekaligus memiliki kesiapan ekosistem dalam menghadirkan pengalaman wellness yang autentik. Program ini telah diintegrasikan dengan dua festival unggulan yakni Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 dan Royal Surakarta Wellness Festival (RSWF) 2025," ujarnya.

Wakil Menteri Ni Luh Puspa mengemukakan, meningkatnya kesadaran keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan (work-life balance), memberikan ruang bagi berkembangnya tren bleisure di Indonesia. 

"Bleisure merupakan gabungan perjalanan bisnis dengan rekreasi. Berbagai literatur menunjukkan pelaku perjalanan bisnis cenderung memperpanjang masa tinggal untuk mengeksplorasi destinasi wisata di sekitarnya," katanya.

Ia menjelaskan, serkembangan bleisure juga seiring dengan keberadaan ekosistem MICE, nomadic work-life travel, dan wisata urban. "Tren wisata bleisure ini semakin diminati wisata di Indonesia didukung adanya peraturan pemerintah yang mengizinkan ASN dan pekerja formal bekerja di luar kantor; work from home (WFH), work from anywhere (WFA), ataupun work from mall (WFM) yang menjadi salah satu pendorong berkembangnya tren wisata bleisure.

"Selain itu, tren ini menjadi peluang strategis bagi pengembangan pariwisata Indonesia, khususnya di destinasi MICE dan kota-kota besar serta membuka peluang peningkatan lama tinggal dan belanja wisatawan," tutupnya. (Gabriel Bobby)

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side