PATADaily.id - Yogyakarta - Penulis: Gabriel Bobby
Memaknai kemerdekaan tidak hanya melalui perayaan, tetapi juga dengan memberikan apresiasi bagi masyarakat yang berkontribusi dalam menjaga warisan budaya bangsa. Hal tersebut diwujudkan InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) melalui program InJourney Hospitality House (IHH) Edisi Spesial Kemerdekaan yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Museum Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Penyelenggaraan IHH Edisi Spesial Kemerdekaan merupakan bagian dari rangkaian program IHH 2026 di lingkungan InJourney Group. Sepanjang 2026, program tersebut telah menjangkau 810 peserta di seluruh InJourney Group, dengan 330 peserta atau sekitar 40 persen di antaranya berada di lingkungan InJourney Destination Management atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero).
“Bagi InJourney, menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya, tetapi juga memastikan nilai dan semangat di dalamnya dapat terus hidup dan diteruskan kepada generasi penerus. Hal ini sejalan dengan DNA InJourney, yaitu Leaving Legacy, di mana setiap langkah yang kami lakukan hari ini diharapkan dapat memberikan dampak dan meninggalkan nilai yang berarti bagi masa depan,” ujar Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman.
Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat dilakukan hanya melalui pelestarian aset atau destinasi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan kapasitas manusia yang menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata. Karena itu, InJourney terus mendorong pengembangan kompetensi dan apresiasi bagi para insan yang berada di garis depan dalam menjaga, merawat, dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Program yang menjadi bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini diikuti 90 penjaga warisan budaya yang berada di sekitar kawasan Candi Prambanan. Para peserta berasal dari berbagai profesi yang memiliki peran penting dalam pelestarian dan pengelolaan destinasi, meliputi juru pugar, juru pelihara, suker, pemandu wisata, serta para seniman, khususnya penari pendukung Sendratari Ramayana Prambanan.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati mengatakan penyelenggaraan IHH merupakan wujud komitmen perusahaan untuk memberikan manfaat yang tepat sasaran dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, salah satunya melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sekitar destinasi.
“Pelatihan ini merupakan wujud komitmen kami dalam melaksanakan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang tepat sasaran, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, IHH bulan ini kami kemas sebagai bentuk apresiasi kepada para penjaga warisan budaya di Kawasan Candi Prambanan atas dedikasi mereka dalam melestarikan cagar budaya sekaligus menghadirkan pengalaman berwisata yang berkualitas,” ujar Indung Purwita Jati dalam keterangan pers resmi, Jumat (14/8/2026).
Mengusung semangat apresiasi terhadap mereka yang berada di garis depan pelestarian warisan budaya sekaligus berinteraksi langsung dengan wisatawan, IHH Edisi Spesial Kemerdekaan dirancang untuk memperkuat kompetensi hospitality, komunikasi, dan pelayanan. Pelatihan tidak hanya menekankan aspek teknis pelayanan, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan membangun hubungan emosional dengan wisatawan melalui komunikasi yang lebih personal dan bermakna.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi seni bercerita (storytelling) sebagai salah satu pendekatan untuk menghadirkan layanan unggulan. Peserta diajak memahami bagaimana sebuah cerita dapat disampaikan secara lebih menarik, membangun emosi, membuat wisatawan merasa terhubung, serta pada akhirnya menciptakan pengalaman yang lebih berkesan.
Kemampuan storytelling menjadi semakin relevan dalam pengelolaan destinasi berbasis warisan budaya. Candi dan berbagai peninggalan sejarah pada dasarnya merupakan sumber cerita, tetapi nilai dan pesan di baliknya perlu disampaikan melalui narasi yang mudah dipahami dan mampu membangun kedekatan dengan wisatawan.
Selain storytelling, materi pelatihan juga menekankan pentingnya sikap pelayanan berbasis keramahtamahan. Peserta dibekali kemampuan untuk memahami kebutuhan dan keinginan wisatawan secara lebih spesifik melalui observasi langsung, analisis ulasan wisatawan di internet, serta diskusi komunitas.
Di sisi lain, wisatawan juga perlu diberikan ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan ekspektasinya. Hal tersebut dapat dibangun melalui gestur yang tepat, pilihan kata yang sopan, serta intonasi suara yang hangat. Perpaduan aspek tersebut diharapkan dapat menciptakan energi positif sekaligus membangun pengalaman pelayanan yang lebih personal bagi wisatawan.
“Pelestarian warisan budaya tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Para juru pelihara, juru pugar, suker, pemandu wisata, hingga seniman bukan sekadar menjalankan fungsi masing-masing, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke destinasi,” terang Indung Purwita Jati.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Nahar Cahyandaru mengapresiasi pelaksanaan IHH yang dinilai relevan dengan peran para peserta sebagai garda depan dalam menyampaikan nilai warisan budaya kepada masyarakat.
Menurutnya, keberadaan para penjaga warisan budaya memiliki posisi strategis karena cagar budaya pada dasarnya tidak dapat menyampaikan ceritanya sendiri kepada pengunjung. Karena itu, manusia yang berada di sekitarnya memiliki peran penting untuk menerjemahkan nilai, sejarah, dan proses pelestarian tersebut menjadi informasi yang dapat dipahami wisatawan.
“Batu itu tidak bisa berbicara. Kalian nanti yang membuat batu itu bicara. Ketika seorang juru pelihara sedang membersihkan dan ada wisatawan yang bertanya, misalnya, perlu dijelaskan bahwa batu-batu ini membutuhkan perawatan. Termasuk batu-batu di sekeliling candi yang posisinya belum pada tempatnya atau masih berserakan, itu juga tidak bisa berbicara. Kalian yang bisa menyampaikan. Para steller dan suker juga harus mampu menjelaskan,” jelasnya.
Salah satu juru pelihara Balai Konservasi DIY, Ida Prastiwi mengatakan bahwa sebagai juru pelihara, dirinya tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan dan pemeliharaan cagar budaya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan wisatawan yang datang berkunjung. Materi storytelling dan pelayanan yang diberikan melalui IHH menjadi bekal untuk meningkatkan cara berinteraksi dengan wisatawan.
“Kami harus menguasai sejarah singkat candi agar bisa memberikan informasi kepada mereka. Kami juga berinteraksi dengan tamu. Kami belajar bagaimana menerima tamu, bagaimana bersikap ramah dan sopan sehingga tamu kami nyaman dan puas dalam berkunjung,” jelasnya.
Pemandu lokal di Keraton Ratu Boko Fitria Andarini menilai pelatihan IHH memberikan perspektif baru dalam mengemas informasi destinasi agar lebih menarik bagi wisatawan. Fitria mengapresiasi pendekatan IHH yang menurutnya dekat dengan perkembangan perilaku wisatawan masa kini. Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan tentang destinasi, tetapi juga bagaimana pemandu membangun komunikasi dan menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengunjung.
“Kemasan baru yang saya dapatkan dari pelatihan ini sangat menarik. Narasumber IHH yang berasal dari generasi Z mengikuti perkembangan zaman, termasuk dari segi penggunaan bahasa dan bagaimana cara kita melayani tamu. Kiat-kiat storytelling yang baik dan menarik bagi pengunjung, terutama bagi kami sebagai pemandu wisata, sangat penting. Banyak hal yang akan saya perbaiki lagi dari apa yang sudah saya dapatkan di sini,” ujar Fitria.
Penguatan kemampuan hospitality juga dirasakan oleh para seniman yang mendukung pengalaman wisata budaya di Kawasan Candi Prambanan. Anom Hartoyo Jutawijaya Kusuma, seniman yang beraktivitas di Sendratari Ramayana Prambanan mengatakan bahwa materi yang diperoleh melalui IHH dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pengalaman penonton dalam pertunjukannya.
“Ini menjadi bekal bagi kami untuk diterapkan dalam pementasan Ramayana Ballet Candi Prambanan. Dengan ilmu yang kami dapatkan, kami juga bisa mengaplikasikannya kepada teman-teman agar pengunjung dan penonton dapat semakin menikmati pelayanan yang kami berikan,” jelas Anom.
IHH Edisi Spesial Kemerdekaan menegaskan upaya menjaga warisan budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas manusia yang menjadi bagian dari ekosistem destinasi. Para juru pugar, juru pelihara, suker, pemandu wisata, dan seniman tidak hanya menjaga keberlanjutan fisik maupun nilai budaya, tetapi juga menjadi penghubung antara warisan masa lalu dengan generasi masa kini dan wisatawan yang datang dari berbagai penjuru.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan destinasi yang semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus meneruskan nilai kemerdekaan melalui kerja nyata, yaitu dengan menjaga warisan budaya, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi setiap pengunjung.
“Kami berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sekaligus memperkuat kolaborasi antar-pemangku kepentingan dalam mewujudkan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Karena ketika kita berbicara tentang destinasi warisan budaya, pengalaman wisatawan tidak hanya dibentuk oleh apa yang mereka lihat, tetapi juga oleh bagaimana mereka diterima, dilayani, dan diajak memahami cerita di balik warisan budaya tersebut,” tutup Indung Purwita Jati.

.png)