CULTURAL/HERITAGE

Halimah Munawir Ikut Jejak Budaya Nan Adhiluhung, Melakukan Adat Tradisi "Seserahan" dalam Meminang Calon Istri Anak Bungsunya.

post-img

PATADaily.id - Jakarta - Penulis: Gabriel Bobby

Sebagai penggiat budaya dan pemilik Rumah Budaya HMA, Halimah Munawir mengikuti jejak budaya nan adhiluhung, melakukan adat tradisi "seserahan" dalam meminang calon istri bagi anak bungsunya.

Haiimah menjelaskan bahwa dirinya sebagai orang tua mendapat kesempatan untuk menghantarkan anak bungsunya menuju satu tahap penting dalam kehidupannya, yaitu meminang pujaan hati, dengan mengikuti salah satu tradisi budaya yang diwariskan oleh para leluhur, Narosan atau seserahan.

Di sebuah ruang di Hotel Astanaraya, Minggu, 6 September 2026, Halimah mengungkapkan, dirinya sebagai orang tua menyaksikan sebuah ritus yang sesungguhnya jauh lebih bermakna ketimbang sekadar seremoni, yakni rites of passage, sebuah ritus peralihan yang menandai perubahan status seseorang: dari kehidupan lajang menuju sebuah perjalanan baru dalam membangun keluarga.

Adapaun dalam tradisi Sunda, prosesi ini dikenal sebagai Narosan. Menariknya prosessi ini hadir setelah sebelumnya kedua keluarga melakukan Neundeun Omong, sebuah tahapan ketika kedua belah pihak mulai membuka pembicaraan, saling mengenal, berkunjung, dan membangun kesepahaman tentang niat baik menyatukan dua insan dalam ikatan keluarga.

Kemuridan, beberapa bulan setelah Neundeun Omong, maka hari ini niat itu kembali diteguhkan melalui Narosan.

Karenanya dari pihak keluarga laki-laki, Halimah menuturkan, membawa berbagai perlengkapan sandang serta aneka jajanan dan panganan Nusantara untuk calon mempelai perempuan. Tak ketinggalan, begitu pula sebaliknya, pihak keluarga perempuan memberikan seserahan kepada pihak laki-laki.

Jika dilihat sekilas, mungkin yang tampak hanyalah barang-barang yang dibawa dan diserahkan. Tetapi sesungguhnya, di balik setiap benda terdapat simbol dan pesan yang jauh lebih dalam.

Ada tanggung jawab yang hendak dipikul. Ada penghormatan kepada calon pasangan dan keluarganya. Ada ketulusan untuk memasuki kehidupan baru.

Dan tentunya yang tak kalah penting, ada kekeluargaan yang sedang dibangun, bukan hanya antara dua anak manusia, tetapi juga antara dua keluarga dan dua lingkungan sosial yang kelak akan menjadi satu.

"Tradisi seperti ini mengingatkan kita bahwa perkawinan bukan sekadar peristiwa antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Di dalam kebudayaan Nusantara, perkawinan adalah peristiwa sosial dan kultural. Ada keluarga yang dipertemukan, ada nilai yang diwariskan, ada tanggung jawab yang disampaikan, dan ada doa yang dititipkan kepada generasi berikutnya," jelas Halimah ketika dihubungi pada akhir pekan ini.

"Karena itu, menjaga tradisi bukan berarti kita harus hidup di masa lalu". Justru, lanjutnya, sebaliknya, tradisi dapat menjadi jembatan agar nilai-nilai masa lalu tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern. Bentuknya mungkin dapat berubah mengikuti zaman, tetapi makna tentang penghormatan, tanggung jawab, gotong royong, dan kekeluargaan semestinya tidak ikut hilang.

"Hari ini kami kembali belajar bahwa warisan leluhur tidak selalu hadir dalam bentuk benda-benda tua atau bangunan bersejarah. Ia juga hidup dalam ritual, tutur, tata cara, simbol, dan sikap manusia ketika menjalani sebuah peristiwa penting dalam kehidupannya," paparnya.

Menurutnya, Narosan menjadi salah satu cara leluhur mengajarkan kepada kita bahwa memasuki kehidupan berumah tangga bukan perkara sederhana. Ada keluarga yang harus dihormati, ada tanggung jawab yang harus dijalankan, dan ada kehidupan baru yang harus dibangun bersama.

"Bagi kami sebagai orang tua, tentu ada rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata".

Menghantarkan anak bungsu menuju gerbang kehidupan barunya membuat kami menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak yang ketika itu berada dalam dekapan, kini telah sampai pada waktunya untuk membangun rumah tangganya sendiri.

"Kami hanya bisa mengiringinya dengan doa. Semoga niat baik ini mendapat ridha Allah SWT. Semoga dua hati yang dipertemukan dapat menjadi pasangan yang saling menguatkan. Semoga dua keluarga yang hari ini dipertemukan dapat terus menjaga silaturahmi," urainya.

Halimah berharap, semoga kelak tradisi luhur seperti Neundeun Omong dan Narosan tidak berhenti pada generasi kami, tetapi terus diwariskan kepada anak cucu sebagai bagian dari kekayaan budaya yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.

"Sebab pada akhirnya, budaya bukan sekadar apa yang kita warisi dari leluhur, tetapi apa yang kita rawat untuk diwariskan kembali kepada generasi setelah kita".

"Alhamdulillah, satu tahapan telah kami lalui. Kini kami titipkan langkah berikutnya kepada waktu, keluarga, dan tentu saja kepada Allah SWT," katanya.

"Semoga menjadi awal dari sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," tutupnya.

 

 

 

Artikel Lainnya

Banner of PATA - Left Side
Banner of PATA - Right Side