WINTER SONATA vs LASKAR PELANGI
Oleh: Djohari Somad
Pemerhati Pariwisata
Apa hubungannya Winter Sonata dengan Laskar Pelangi? Kelihatannya enggak nyambung. Yang satu drama Korea, yang satu film Indonesia. Yang satu membawa wisatawan ke Nami Island, yang satu pernah membuat orang ramai-ramai datang ke Belitung.
Tapi keduanya membuktikan satu hal: wisatawan ternyata bukan cuma butuh tempat yang indah. Mereka juga butuh cerita.
Saya masih ingat ketika Laskar Pelangi booming. Belitung ikut terangkat. Orang yang sebelumnya mungkin enggak pernah kepikiran liburan ke sana tiba-tiba penasaran. Mau melihat Tanjung Tinggi dengan batu-batu granit raksasanya, island hopping ke Pulau Lengkuas, dan tentu saja mengunjungi tempat-tempat yang mereka kenal dari Laskar Pelangi.
Angkanya pun bicara. Pada 2018 silam, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Belitung mencapai sekitar 467 ribu orang. Tahun berikutnya turun menjadi sekitar 348 ribu, ketika harga tiket pesawat yang tinggi dan kebijakan bagasi berbayar juga ikut menjadi persoalan. Lalu pandemi datang dan pariwisata ke mana-mana ambruk.
Pada 2024 lalu kunjungan ke Belitung tercatat sekitar 276 ribu wisatawan, masih sekitar 41 persen di bawah 2018. Tapi sampai Juli 2025, jumlahnya sudah sekitar 245 ribu wisatawan.
Jadi sebenarnya Belitung enggak ditinggalkan. Belitung sedang mencari kembali momentumnya.
Winter Sonata Kok Masih Laku?
Tahun 2002, Winter Sonata meledak di Asia dan salah satu lokasi syutingnya, Nami Island, ikut terkenal. Orang datang melihat deretan pohon yang muncul dalam drama, berfoto di lokasi syuting, dan mengenang adegannya.
Yang menarik, itu terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu. Sampai sekarang jejak Winter Sonata masih menjadi bagian dari pengalaman wisata Nami Island. Korea enggak bilang, “Sudahlah, itu kan drama lama.” Mereka tetap memeliharanya.
Sekarang coba lihat Laskar Pelangi. Filmnya keluar tahun 2008. Artinya Winter Sonata malah lebih tua enam tahun. Kalau Korea masih bisa memanfaatkan Winter Sonata, kenapa kita harus merasa Laskar Pelangi sudah terlalu lama?
Laskar Pelangi itu aset pariwisata Belitung.
Jangan Datang, Foto, Lalu Pulang
Sekolah Laskar Pelangi jangan cuma menjadi tempat wisatawan turun dari mobil, foto lima menit, lalu naik lagi. Sayang sekali.
Hidupkan lagi Ikal, Lintang, Mahar dan Bu Muslimah. Ceritakan bagaimana anak-anak dari daerah tambang, dengan segala keterbatasannya, berani punya mimpi besar. Hubungkan dengan pendidikan, kehidupan masyarakat, sejarah timah, sampai Belitung hari ini.
Jadi orang datang bukan cuma untuk punya foto di depan sekolah, tetapi mendapatkan pengalaman yang punya makna. Deretan pohon di Nami Island sebenarnya ya pohon. Sekolah Laskar Pelangi sebenarnya ya bangunan sederhana. Yang membuat keduanya berbeda adalah makna di belakangnya.
Yang Lama Dipelihara, yang Baru Diciptakan
Mempertahankan Laskar Pelangi bukan berarti Belitung harus hidup dari nostalgia. Yang lama dipelihara, yang baru juga harus diciptakan.
Belitung punya modal besar. Ada Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, Pulau Leebong, island hopping, kuliner Melayu, kopi, budaya masyarakat pesisir, sampai sejarah pertambangan timah. Kenapa sejarah timah enggak dikemas lebih serius sebagai wisata sejarah dan edukasi?
Bayangkan satu perjalanan: pagi island hopping, siang menikmati kuliner Belitung, sore mengenal sejarah timah, besoknya masuk ke dunia Laskar Pelangi.
Nah, perjalanan seperti ini lebih berisi. Wisatawan enggak cuma melihat Belitung. Mereka mengalami Belitung.
Tiket Pesawat, Ini Lagi…
Mau sebagus apa pun destinasinya, orang tetap harus bisa sampai ke sana. Dan kalau bicara Belitung, kita enggak bisa menghindari urusan harga tiket pesawat.
Wisatawan sekarang pintar membandingkan. Buka aplikasi, cek Jakarta-Belitung, lalu Bali, Lombok, bahkan iseng-iseng luar negeri. Kalau selisihnya tipis, mulailah berhitung: “Kalau segini, sekalian ke Bali.” Atau lebih menyakitkan lagi, “Tambah sedikit, bisa ke luar negeri.”
Nah, repot. Belum sempat melihat pantainya, wisatawan sudah mundur gara-gara harga tiket.
Belitung juga pernah punya penerbangan internasional langsung. Artinya peluang itu sebenarnya pernah ada. Kalau kita ingin pasarnya membesar lagi, konektivitas harus menjadi perhatian.
Destinasi boleh cantik, tapi kalau mahal atau susah dicapai, orang tetap mikir dua kali.
Sudah Pernah ke Belitung. Terus?
Ini pertanyaan yang lebih serius. Orang sudah pernah ke Tanjung Tinggi, island hopping, foto di Pulau Lengkuas, dan melihat lokasi Laskar Pelangi. Kenapa tahun depan harus datang lagi?
Belitung perlu menciptakan alasan baru. Bisa festival budaya, wisata kuliner, event bahari, marathon, cycling, triathlon, wisata sejarah timah, MICE, gathering perusahaan, komunitas, sampai perjalanan sekolah.
Belitung juga relatif dekat dari Jakarta. Kenapa enggak diperkuat sebagai short escape tiga atau empat hari? Jumat berangkat, Sabtu island hopping, Minggu kuliner, budaya dan Laskar Pelangi, Senin balik kerja. Sedikit bete boleh, namanya juga habis liburan.
Sampai Belitung, Jangan Dibikin Repot
Transportasi lokal juga jangan dianggap urusan kecil. Wisatawan masih cukup bergantung pada kendaraan sewaan, travel, hotel atau operator lokal.
Belitung enggak perlu berubah menjadi Bali. Yang penting mudah. Turun dari pesawat gampang cari kendaraan, mau makan gampang, mau ke pantai gampang, kembali ke hotel juga gampang.
Karena pengalaman wisata dimulai sejak orang tiba, bukan ketika kakinya menyentuh pasir pantai.
Jangan Menunggu Film Besar Berikutnya
Laskar Pelangi sudah melakukan pekerjaan luar biasa. Satu film membuat jutaan orang Indonesia mengenal Belitung. Tapi masa kita mau duduk menunggu ada film seheboh itu lagi?
Belitung harus terus muncul lewat media sosial, film pendek, travel writer, influencer, travel agent, komunitas, dan tentu saja event yang memang layak didatangi. Bukan event yang selesai begitu spanduk diturunkan.
Kalau wisatawan datang, yang menikmati juga bukan cuma hotel. Travel agent dapat pekerjaan, guide jalan, mobil rental bergerak, restoran ramai, warung hidup, oleh-oleh laku, dan UMKM ikut merasakan.
Karena itu mengembalikan momentum Belitung enggak bisa dibebankan kepada Dinas Pariwisata sendirian. Pemerintah daerah, maskapai, hotel, travel agent, restoran, komunitas dan UMKM harus bergerak bareng.
Buat event yang kuat, paket yang menarik, dan kalau bisa gabungkan tiket pesawat, hotel, transportasi serta tour dalam satu harga yang kompetitif. Lalu promosikan bersama. Jangan masing-masing sibuk sendiri. Pariwisata enggak pernah bekerja seperti itu.
Jadi, Winter Sonata vs Laskar Pelangi?
Sebenarnya bukan soal mana yang lebih hebat. Winter Sonata tahun 2002, Laskar Pelangi tahun 2008. Dua-duanya pernah membuat orang ingin datang ke tempat yang mereka lihat di layar.
Bedanya bukan soal umur. Yang penting adalah bagaimana warisan itu dikelola.
Korea tetap memanfaatkan Winter Sonata sambil terus mengembangkan Nami Island. Belitung juga bisa begitu. Laskar Pelangi tetap dipertahankan, tetapi atraksi baru dibuat, event diperkuat, akses diperbaiki, dan wisatawan diberi alasan untuk datang lagi.
Karena sebenarnya Belitung enggak kehilangan apa-apa. Pantainya masih cantik, batu granitnya masih berdiri, pulau-pulaunya masih menawan, dan Laskar Pelangi masih punya daya tarik.
Yang perlu kita hidupkan kembali adalah momentumnya.
Keindahan membuat orang datang. Makna membuat orang mengingat. Pengalaman yang baik membuat orang kembali.

.png)