PKBL BUMN Jadi Andalan bagi UMKM Tanjung Lesung

Share

Istimewa

PATADaily.id – Tim KKN-PPM UGM Gelora Tanjungjaya melakukan pemetaan masalah pada
kelompok pengrajin dan pelaku industri kecil menengah (IKM) di Desa Tanjungjaya,
Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kegiatan ini dilakukan pada saat penerjunan KKN-PPM UGM periode kedua yang dilakukan dengan metode daring.

Pemetaan masalah pada kelompok pengrajin dan pelaku industri kecil menengah (IKM) dilakukan dengan alasan untuk mendukung program Bufferzone KEK Tanjung Lesung dan program one village one product Cikadu Edutourism Center, serta dalam rangka melaksanakan tujuan Sustainable
Development Goals (SDGs) poin pertama, yaitu tanpa kemiskinan, poin kedelapan
tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak, serta poin ketujuh belas
tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Pemetaan masalah IKM ini dilakukan
dengan mengambil data primer melalui telewicara dengan para pengrajin dan
kelompok IKM terkait kendala dan permasalahan yang dialami, serta data dari
pemerintah setempat.

Dari hasil telewicara terdapat beberapa masalah yang terdapat pada kelompok pengrajin dan pelaku IKM, seperti 1) permasalahan kualitas
dan jumlah sumber daya manusia (SDM), 2) ketersediaan jumlah bahan baku, 3)
kelengkapan alat dan mesin produksi, 4) cara pemasaran dan 5) yang paling besar
terkait permodalan.

Maka dari itu, program Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BUMN akan sangat membantu mengembangkan IKM di Desa
Tanjungjaya.

Adapun Desa Tanjungjaya memiliki sekitar 14 kelompok IKM yang terdiri dari empat
kelompok IKM dibidang kuliner dan sepuluh kelompok IKM pengrajin.

Semua kelompok IKM yang ada merupakan kelompok usaha rintisan yang sudah berjalan
selama paling sedikit berjalan lebih dari satu tahun produksi dan ada yang sudah
berjalan selama lima tahun produksi.

Permasalahan yang dialami oleh kelompok
IKM kuliner terdapat pada pembuatan PIRT dan branding produk.

Masyarakat kesulitan dalam mengurus PIRT karena terkendala oleh biaya uji laboratorium di
Dinas Kesehatan serta ongkos transportasi yang lumayan mahal.

Pembuatan kemasan dan branding produk yang menarik juga belum mampu untuk dilakukan
mengingat keterbatasan kemampuan dan alat yang mereka miliki.

Sementara itu, permasalahan yang dialami oleh kelompok pengrajin terdapat
keterbatasan alat, bahan baku dan sumber daya manusia yang belum
tercukupi.

“…kalau untuk kendala ada pada proses pembuatan dan finishing produk
karena masih kekurangan alat, seperti mesin bor dan gerinda, serta berbagai
macam mata pisaunya.” tutur pak Tedi ketua kelompok pengrajin Batok Kelapa TDM

Edutourism Center, serta dalam rangka melaksanakan tujuan Sustainable
Development Goals (SDGs) poin pertama, yaitu tanpa kemiskinan, poin kedelapan
tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak, serta poin ketujuh belas
tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Pemetaan masalah IKM ini dilakukan
dengan mengambil data primer melalui telewicara dengan para pengrajin dan
kelompok IKM terkait kendala dan permasalahan yang dialami, serta data dari
pemerintah setempat. Dari hasil telewicara terdapat beberapa masalah yang
terdapat pada kelompok pengrajin dan pelaku IKM, seperti 1) permasalahan kualitas
dan jumlah sumber daya manusia (SDM), 2) ketersediaan jumlah bahan baku, 3)
kelengkapan alat dan mesin produksi, 4) cara pemasaran dan 5) yang paling besar
terkait permodalan. Maka dari itu, program Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
(PKBL) dari BUMN akan sangat membantu mengembangkan IKM di Desa
Tanjungjaya.
Desa Tanjungjaya memiliki sekitar 14 kelompok IKM yang terdiri dari empat
kelompok IKM dibidang kuliner dan sepuluh kelompok IKM pengrajin. Semua
kelompok IKM yang ada merupakan kelompok usaha rintisan yang sudah berjalan
selama paling sedikit berjalan lebih dari satu tahun produksi dan ada yang sudah
berjalan selama lima tahun produksi. Permasalahan yang dialami oleh kelompok
IKM kuliner terdapat pada pembuatan PIRT dan branding produk. Masyarakat
kesulitan dalam mengurus PIRT karena terkendala oleh biaya uji laboratorium di
Dinas Kesehatan serta ongkos transportasi yang lumayan mahal. Pembuatan
kemasan dan branding produk yang menarik juga belum mampu untuk dilakukan
mengingat keterbatasan kemampuan dan alat yang mereka miliki.
Sementara itu, permasalahan yang dialami oleh kelompok pengrajin terdapat
keterbatasan alat, bahan baku dan sumber daya manusia yang belum
tercukupi.“…kalau untuk kendala ada pada proses pembuatan dan finishing produk
karena masih kekurangan alat, seperti mesin bor dan gerinda, serta berbagai
macam mata pisaunya.” tutur Pak Tedi ketua kelompok pengrajin Batok Kelapa TD

Edutourism Center, serta dalam rangka melaksanakan tujuan Sustainable
Development Goals (SDGs) poin pertama, yaitu tanpa kemiskinan, poin kedelapan
tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak, serta poin ketujuh belas
tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Pemetaan masalah IKM ini dilakukan
dengan mengambil data primer melalui telewicara dengan para pengrajin dan
kelompok IKM terkait kendala dan permasalahan yang dialami, serta data dari
pemerintah setempat. Dari hasil telewicara terdapat beberapa masalah yang
terdapat pada kelompok pengrajin dan pelaku IKM, seperti 1) permasalahan kualitas
dan jumlah sumber daya manusia (SDM), 2) ketersediaan jumlah bahan baku, 3)
kelengkapan alat dan mesin produksi, 4) cara pemasaran dan 5) yang paling besar
terkait permodalan. Maka dari itu, program Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
(PKBL) dari BUMN akan sangat membantu mengembangkan IKM di Desa
Tanjungjaya.
Desa Tanjungjaya memiliki sekitar 14 kelompok IKM yang terdiri dari empat
kelompok IKM dibidang kuliner dan sepuluh kelompok IKM pengrajin. Semua
kelompok IKM yang ada merupakan kelompok usaha rintisan yang sudah berjalan
selama paling sedikit berjalan lebih dari satu tahun produksi dan ada yang sudah
berjalan selama lima tahun produksi. Permasalahan yang dialami oleh kelompok
IKM kuliner terdapat pada pembuatan PIRT dan branding produk. Masyarakat
kesulitan dalam mengurus PIRT karena terkendala oleh biaya uji laboratorium di
Dinas Kesehatan serta ongkos transportasi yang lumayan mahal. Pembuatan
kemasan dan branding produk yang menarik juga belum mampu untuk dilakukan
mengingat keterbatasan kemampuan dan alat yang mereka miliki.
Sementara itu, permasalahan yang dialami oleh kelompok pengrajin terdapat
keterbatasan alat, bahan baku dan sumber daya manusia yang belum
tercukupi.

“Kalau untuk kendala ada pada proses pembuatan dan finishing produk
karena masih kekurangan alat, seperti mesin bor dan gerinda, serta berbagai
macam mata pisaunya,” tutur Pak Tedi ketua kelompok pengrajin Batok Kelapa TDM Work Work dari kampung Sukamulya dalam press release yang diterima patadaily.id, Kamis (29/7/2021).

Permasalahan pada ketersediaan bahan baku dialami oleh pak Aceng, ketua
kelompok Kerajinan Kayu Saung Centong di Kampung Muncang.

Selain itu kendala modal untuk membeli bahan baku dialami oleh pak Jai, ketua kelompok kerajinan Kayu Ukir Badan Moncong Kulon di Kampung Cikadu.

Sementara pak Toto selaku manajer
Sanggar Batik di Kampung Cikadu mengalami kendala pada kualitas dan jumlah
sumber daya manusia dan bahan baku yang hanya tersedia di Jawa Tengah,
sehingga membebani biaya produksi.

“SDM kurang mengerti batik sama sekali, jadi harus mulai dari pelatihan
dan pengenalan dari nol. Sulit mempertahankan SDM yang sudah terlatih, banyak warga yang berpandangan merantau ke luar daerah lebih baik. Kendala terbesar
dalam mengedukasi warga dan konsumen tentang batik tulis, sehingga mereka tidak
lagi membandingkan harga batik tulis dan batik printing. Ketersediaan bahan baku
yang berasal dari Semarang membuat kos produksi semakin besar sehingga
mempengaruhi harga jual,” tutur pak Toto dalam telewicara yang dilakukan dengan
salah satu mahasiswa KKN PPM UGM (17/7/2021).

Karenanya solusi dan strategi pemberdayaan yang dapat diberikan sebagai upaya
penyelesaian masalah dan peningkatan kesejahteraan perekonomian kelompok
pengrajin dan pelaku IKM di Desa Tanjungjaya dapat berupa, pemberian program
pemberdayaan dan peningkatan kemampuan teknologi produksi, pengelolaan usaha

dan pendampingan pengajuan PIRT (Susantiningrum, 2018). Dalam mengatasi
permasalah permodalan dapat berupa pengajuan bantuan PKBL BUMN terutama
pada Program Kemitraan yang menyediakan bantuan pinjaman modal usaha.
Selaras dengan temuan data di lapangan, kajian penelitian terdahulu dan
berdasar pada kebutuhan masyarakat, maka luaran dari program kerja pemetaan
masalah IKM ini berupa pengajuan proposal kemitraan terkait pinjaman modal usaha
bagi kelompok pengrajin dan pelaku IKM di Desa Tanjungjaya. Dengan adanya
bantuan pinjaman modal usaha ini pengrajin dan pelaku IKM dapat memenuhi
keterbatasan alat dan mesin produksi, serta mencukupi kebutuhan bahan baku,
serta mengurus PIRT produk mereka. Selain luaran yang berbentuk proposal
peminjaman modal, harapannya pemerintah daerah dan BUMN memberikan
bantuan pinjaman modal usaha melalui Program Kemitraan yang ada. Mengingat
IKM di Desa Tanjungjaya masih berada pada level rintisan, harapannya biaya jasa
administrasi yang dibebankan dari pinjaman modal usaha tidak terlalu besar dan
membebani masyarakat, agar mereka dapat maksimal dalam mengembangkan IKM
yang sedang dirintis. (Gabriel Bobby)

Share