Digitalisasi Pariwisata dan Mengembangkan Desa Wisata

Share

Menparekraf Sandiaga S Uno

PATADaily.id – Industri pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) di Tanah Air merupakan bagian dari industri yang terdampak pandemi Covid-19 sejak tahun lalu.

Di Indonesia, kebijakan penutupan destinZi wisata dan pembatasan mobilitas saat PPKM Darurat Jawa dan Bali mulai 3 hingga 20 Juli mendatang menjadi tantangan bagi pelaku usaha di industri tersebut agar tetap bertahan.

Dalam paparannya di diskusi “Pro-Kontra Kesehatan Dan Ekonomi: Bisakah Berdampingan di Masa Pandemi?”, Ketua Umum ASITA N Rusmiati mengatakan bahwa dirinya harus tetap kreatif dan inovatif.

Adapun salah satu upayanya dengan digitalisasi pariwisata melalui kerja sama dengan PT Aero Sytems Indonesia (Asyst) dalam hal marketplace.

Look, book, pay, review (lihat, pesan, beli, beri ulasan). Di sini bisa lihat (secara) digital. Bisa dengan handphone, bisa kita capai,” kata Rusmiati, Sabtu (17/7/2021).

Pada kesempatan ini, Menpareraf Sandiaga S Umo juga hadir sebagai narasumber utama. Pada acara ini juga menghadirkan Ketua Umum Yayasan Pariwisata Dunia Indonesia yang sekaligus Executive Director PATA Indonesia Chapter Agus H Canny.

Selain itu, Rusmiati sempat menyinggung rencana travel bubble (gelembung perjalanan) antara Indonesia dengan negara lain yang belum terlaksana lantaran situasi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Ia kemudian memberi contoh implementasi travel bubble ke wilayah domestik, khususnya yang zona hijau, guna menciptakan pergerakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.

“Sekarang kita harus realize (sadar). (Praktik) Travel bubble (bisa) kita lakukan di lokal maupun domestik,” ujarnya.

Mengembangkan desa wisata

Pada kesempatan yang sama, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu menjelaskan zona-zona yang ada di provinsi tersebut.

Berdasarkan paparannya, terdapat 19 kabupaten/kota dan 148 kecamatan di Jawa Tengah yang masuk zona merah per 21 – 27 Juni 2021. Sedangkan, per 28 Juni – 4 Juli 2021, ada 532 desa/kelurahan yang masuk zona merah di provinsi tersebut.

“Di desa masih ada (zona) hijau, jadi mungkin sekarang wisata-wisata desa yang perlu dikembangkan kali ini. Jadi mereka hanya berwisata di desa masing-masing. Mereka yang memang (zona) hijaunya di wilayah mereka,” katanya. (Gabriel Bobby)

Share