Wajah Tanjung Lesung dalam New Normal

Share

Peralatan makan dari kayu diminati wisatawan (Ist)

PATADaily.id – Pandemi global covid-19 membuat industri pariwisata Indonesia terkena dampak langsung.

Karenanya pemerintah pun berupaya mengajak wisatawan Nusantara (wisnus) untuk traveling #diIndonesiaaja di era New Normal.

Maka tak salah memberikan apresiasi terhadap manajemen PT Banten West Java (BWJ) yang mengelola destinasi wisata Tanjung Lesung.

Ya, PT BWJ berupaya tetap survive dalam masa pandemi covjd-19 dan dilanjutkan dalam adaptasi kebiasaan baru sehingga Tanjung Lesung pun diminati wisnus.

Berdasarkan pantauan patadaily.id pada akhir pekan lalu, Sabtu (11/7/2020) dan Minggu (12/7/2020), tampak wisnus ramai traveling ke destinasi wisata yang ada di Pandeglang, Banten ini.

Sejumlah wisatawan Nusantara yang menetap di Jakarta ketika ditemui mengungkapkan bahwa pilihan melakukan perjalanan wisata ke Tanjung Lesung adalah pilihan yang tepat saat ini sebab sudah tidak mudah lagi terbang ke destinasi wisata lainnya, seperti ke Bali.

“Tanjung Lesung tidak jauh dari Jakarta. Kami suka main di pantai. Kami suka laut. Sementara kalau kita mau berlibur ke Bali sudah tidak mudah terbang ke Pulau Dewata sebelum ada wabah virus corona,” tutur Sitompol bersaudara.

Rully Lasahido, Managing Director PT BWJ dalam webinar Survival Industri Hotel dan Wisata, Lewat Kampanye Digital?, Kamis (16/7/2020) menuturkan, freshmart di Tanjung Lesung merupakan suatu terobosan yang dilakukan PT BWJ untuk tetap bisa bertahan hidup dalam masa pandemi covid-19 di Indonesia.

Menariknya freshmart di Tanjung Lesung menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan ketika traveling ke destinasi wisata yang ada di Pandeglang ini.

Rully mengatakan, freshmart terus dikembangkan oleh BWJ sehingga wisatawan akan semakin sering ke Tanjung Lesung.

Dan, freshmart pun memudahkan traveler Nusantara untuk membeli oleh-oleh ketika lagi traveling ke Tanjung Lesung.

Tak berhenti sampai di situ sebab Tanjung Lesung pun suka mengadakan virtual tour untuk memberikan gambaran bagi traveler yang belum berkunjung ke destinasi wisata yang ada di Pandeglang ini.

Bahkan, kini berlibur ke Tanjung Lesung semakin mudah dari berbagai daerah di Indonesia.

Caranya begitu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, maka wisatawan bisa menggunakan Damri yang eksklusif untuk menuju Tanjung Lesung hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp55 ribu.

Jangan khawatir traveling ke Tanjung Lesung sebab destinasi wisata yang kental dengan wisata bahari ini menerapkan protokol kesehatan dalam adaptasi kebiasaan baru ini.

Bahkan, pilihan menginap di Tanjung Lesung ada banyak untuk para traveler. Ya, bisa menginap di hotel dan menariknya bisa menginap di kontainer.

Bahkan, wisatawan pun bisa memilih menginap di tenda.

Tak hanya itu, di Tanjung Lesung pun kini sudah ada Cikadu Edutourism Centre (CEC) adalah sebuah katalis (wadah) pengembangan objek wisata edukasi dan kelompok IKM masyarakat di destinasi sekitar (bufferzone) Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.

“CEC berdiri pada Agustus 2019 lalu yang dikelola oleh Kelompok Penggerak Pariwisata dan didukung penuh oleh KEK Tanjung Lesung. Pada awal kegiatan usaha, CEC berupaya memasarkan paket-paket wisata edukasi kepada wisatawan yang terbagi dalam 3 basis kategori, yakni Edukasi Alam, Edukasi Kerajinan, dan Edukasi Seni Budaya. Masing-masing paket wisata memiliki harga yang sangat terjangkau bagi wisatawan, mulai dari Rp20.000 untuk paket kerajinan dan budaya, dan Rp80.000 untuk paket snorkeling dan transplantasi terumbu karang,” kata Danni Manta, pendamping Desa Tanjungjaya ketika dihubungi Rabu (15/7/2020).

Namun, lanjutnya ketika menjalani usaha belum mencapai 1 tahun, CEC menghadapi tantangan berat yaitu pandemi covid-19 yang berdampak pada penurunan drastis kunjungan wisatawan dan penutupan objek-objek wisata yang berpotensi mengumpulkan massa.

“CEC tidak berputus asa dalam upaya memberdayakan masyarakat khususnya 50 pengrajin lokal di desa ini, oleh karena itu pada Maret lalu, CEC meluncurkan katalog produk online dan toko online yang dapat diakses di linktr.ee/CikaduEdutourism. Hingga Juli 2020, lebih dari 500 produk kerajinan masyarakat di desa Tanjungjaya dan omzet yang didapatkan sekitar Rp16 juta. Ada 6 kampung, 50 pengrajin telah terlibat dalam pengembangan industri kreatif di bufferzone Tanjung Lesung. Dan CEC akan berusaha terus memperluas jangkauan pemberdayaan kepada masyarakat sekitar Tanjung Lesung yang lebih banyak lagi,” urainya.

Saat ini, CEC sedang mengajukan program kerja sama pemberdayaan masyarakat pengrajin dengan Perhutani, dimana Perhutani memiliki hutan jati dan mahoni yang sangat luas yang berlokasi di Kecamatan Sobang hingga Cibaliung, Kabupaten Pandeglang.

“Terdapat potensi limbah kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku bagi kerajinan kayu di Cikadu Edutourism Centre,” ujarnya.

Danni mengatakan, terjadi kenaikan pemesanan yang siginifikan sejak di kota-kota besar, seperti Jakarta orang mulai menggunakan peralatan makan sendiri tidak lagi digunakan bersama dengan orang lain demi higienitas.

“Demi kesehatan, banyak pesanan dari Jabodetabek untuk peralatan makan dari kayu. Saya bersyukur sebab hal ini memberikan dampak positif untuk pemberdayaan masyarakat di Desa Tanjungjaya,” tuturnya. (Gabriel Bobby)

Share