Country Manager VITO Perancis Tidak Setuju dengan William Wongso mengenai Promosi Bumbu Indonesia

Share

Dok Eka Moncarré

PATADaily.id – Indonesia sudah sejak lama dikenal dunia sebagai penghasil rempah-rempah. Dan, pada masa kini rempah-rempah dari Tanah Air juga menjadi strategi yang tepat untuk mempromosikan Indonesia di luar negeri sehingga bisa memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke negeri ini.

Menariknya rempah-rempah dari Indonesia di luar negeri disukai orang asing, seperti Perancis yang menyukai bumbu yang fresh sebab mereka tidak suka bumbu instan apalagi yang dibuat di Indonesia yang nota bene ada bahan pengawetnya.

Demikian penjelasan Eka Moncarré, Country Manager Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Perancis ketika dihubungi patadaily.id, Rabu (20/5/2020).

Eka mengaku tidak sepakat dengan pakar kuliner Indonesia, William Wongso dalam artikel mengenai rempah-rempah Indonesia yang dimuat di kompas.com https://travel.kompas.com/read/2020/05/17/211200527/rempah-yang-paling-sering-digunakan-orang-indonesia-tak-sebanyak-zaman-dahulu . “Di dalam artikel diatas disebutkan oleh Pak William Wongso kalau mempromosikan rempah-rempah Indonesia bisa dilakukan lewat bumbu rempah bubuk tapi setelah itu beliau bilang  lebih baik menggunakan bumbu yang sudah jadi supaya restoran Indonesia di luar negeri tidak bangkrut ? Ini 2 pernyataan sama sekali tidak jelas. Apalagi judulnya tentang rempah-rempah bukan bumbu,” urainya.

Ia mengaku tidak setuju dengan pernyataan William Wongso. “Ini alasan-alasannya, yaitu orang-orang di Eropa terutama orang Perancis lebih suka bumbu yang fresh, mereka tidak suka bumbu instan apalagi yang dibuat di Indonesia yang nota bene ada bahan pengawetnya. Orang-orang Perancis tidak suka makanan dengan produk kimia, mereka lebih suka makanan dengan bumbu alami, go nature. Jika kita memperkenalkan rempah-rempah Indonesia dengan bumbu instan, bagaimana dunia bisa tahu tentang kekayaan rempah-rempah di Indonesia ? Ini sama sekali bertolak belakang. Bumbu jadi alias bumbu instan itu mungkin bagus buat orang-orang yang ingin masak makanan Indonesia secara praktis tapi bukan sebagai cara yang tepat untuk mempromosikan makanan Indonesia dan rempah-rempah Indonesia apalagi di luar negeri. Chef-Chef di Perancis tidak pernah akan memasak dengan bumbu jadi dan mereka anti dengan bumbu jadi. Mereka ingin membuat dan meracik bumbu mereka sendiri. Bahkan untuk membuat kaldu pun, mereka tidak pakai penyedap rasa tapi dibuat dari kaldu sari tulang-tulang ayam atau sapi,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya Indonesia sedang berjuang agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Sosial, dan Budaya (UNESCO).

“Ini penting mengingat Jalur Rempah bisa membuka peluang promosi kekayaan Nusantara di kancah global. Jadi yang kita perlu tunjukkan rempah-rempah kita bukan bumbu jadi,” tuturnya.

Eka mengatakan, apalagi dengan adanya pandemi covid-19, semua orang di dunia akan lebih memilih makan makanan organik yang alami dan bukan dengan bumbu jadi.

Menurutnya, sekarang semua orang akan memiilih go natural, go green, dan makan makanan dari alam, bio food sangat laku di Eropa, tren dari pasca covid-19.”Pak Wongso bilang di artikel yang menurutnya hanya sebatas membawa dan memperkenalkan hidangan Indonesia tidak cukup karena tidak memberi kesan. Nah berarti apalagi dengan mempromosikan makanan Indonesia dengan bumbu jadi yang hanya kasih orang makan dan tidak ada penjelasan itu tidak berkesan,  beliau membuat pernyataan yang kontradiksi dengan yang beliau usulkan. Ini kan membuat orang jadi bingung?,” ungkapnya.Eka mengemukakan alasan menanggapi William Wongso lantaran dirinya tidak mau promosi Indonesia di Eropa, utamanya di Perancis menjadi kacau karena ada hal-hal yang dibilang di Indonesia tetapi kenyataaan dengan yang terjadi di luar negeri berbeda.

Eka mengaku berkepentingan menanggapi William Wongso sebab dirinya sudah ditunjuk pemerintah sebagai perwakilan resmi Indonesia di Perancis. “Sebagai diaspora Indonesia yang tinggal di Perancis dan juga perwakilan resmi dari Kemenparekraf di Perancis, saya rasa perlu untuk saya menjelaskan ke semuanya supaya tujuan kita membawa nama Indonesia di luar negeri bisa berhasil,” ucapnya.

Eka mengungkapkan bahwa dirinya bekerja di VITO Perancis yang merupakan perwakilan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Perancis.

Eka menjelaskan bahwa dirinya mempunyai pengalaman yang cukup mengagetkan dengan cara William Wongso mempromosikan makanan Indonesia. “Waktu kami undang beliau ke Paris untuk membuat festival Indonesia di Perancis. Bumbu-bumbu yang dipakai adalah bumbu jadi semua karena beliau baralasan kalau tidak mungkin membuat bumbu fresh karena waktu dan logistik yang tidak bisa dapat semua bahan. Untuk hal ini saya mengerti dan setuju karena ini berhubungan dengan urusan dapur dan hal logistik, selama tujuannya untuk memperkenalkan masakan Indonesia, fine !,” urainya.

Tapi, lanjutnya lama-lama membuat saya menjadi aneh karena Bapak William Wongso tanpa ragu-ragu mempromosikan bumbu jadi instan Indonesia yang berinisial berawal dgn huruf M di depan semua orang lokal, dan ada beberapa yang memberikan komentar ke saya kenapa kamu bawa bumbu jadi untuk promosi?

Bahkan, waktu membuat cooking demo pun bumbu instan jadi berinisial M ditunjukkan ke depan semua Chef-Chef. “Awalnya saya ok-ok saja, tetapi saya sempat ditegur oleh salah satu Chef dari hotel di Paris tempat kita membuat festival kenapa yang dipakai di festival itu bumbu jadi dan saya jelaskan karena masalah logistik,” ucapnya.

Eka mengemukakan, pada tahun lalu William Wongso membawa timnya untuk membuat demo cooking di Paris dan minta bantuan KBRI Paris, dan lagi-lagi bungkusan bumbu instant M ini ditunjukkan waktu demo cooking di sekolah masak Perancis CORDON BLEU. “Saya ketika itu tidak hadir di acara tersebut tapi saya kaget melihat videonya dan malu karena ini tempat dimana semua murid belajar untuk menjadi Chef dan Indonesia demo dengan mempromosikan bumbu instan. Walaupun ada beberapa bumbu segar yang di-display. Ini yang membuat promosi rempah-rempah kita dan promosi gastronomi kita tidak dipandang oleh orang Perancis. Bagaimana kita bisa memperkenalkan kekayaan rempah-rempah kita kalau kita hanya bawa bumbu soto ayam, bumbu rendang dan lainnya setiap kali kita promosi Indonesia. Dan yang dibawa pun hanya satu merek bumbu itu, akhirnya ada yang curiga kalau ini promosi Indonesia atau  promosi merek bumbu instan M?,” tanyanya.

Ia mengatakan, restoran-restoran Indonesia di Perancis lebih suka membuat bumbu sendiri fresh untuk membuat rendang, pertama cost lebih murah dan lebih asli. “Rempah-rempah bisa didapat di toko Asia, walaupun bukan datang dari Indonesia tapi sama, atau di toko India juga bisa didapatkan,” ujarnya.

“Sekarang kalau tujuan kita untuk mempromosikan rempah-rempah, yang harus ditonjolkan adalah rempah-nya. Kalau memang susah untuk mengekpor rempah-rempah fresh, kita bisa buat dalam kemasan bubuk tetapi natural alami tidak ditambah bahan-bahan kimia. Bumbu jadi itu lain lagi, tidak ada hubungan dengan rempah-rempah. Dan apalagi tidak sembarangan untuk Eropa menerima impor bumbu yang dibuat di Indonesia jika tidak ada standar-standar tertentu dengan ingredient-nya dan lain sebagainya. Dan ada yang bilang iya tapi Thailand berhasil promosi dengan bumbu-bumbunya? Nah kalau ini lain lagi karena bumbu jadi Thailand yang dipromosikan ke luar negeri itu adalah program gastro-diplomacy Thailand yang dibuat oleh Raja dengan nama Global Thai  dengan program membuat bumbu standar untuk semua makanan Thailand seperti Tom Yum, Pad Thai dan lainnya, dimana bumbu-bumbu jadi ini disebarkan ke semua restoran Thailand di dunia untuk mempromosikan makanan Thailand, mereka jalankan ini sejak lama dan dikoordinasi lewat satu pintu Thailand, yakni  Kitchen of The World. Pertanyaan saya, apakah ada bumbu Indonesia yang distandarkan oleh pemerintah? Apakah ada standar bumbu rendang, bumbu soto ayam ,dan lainnya yang dijadikan standar national Indonesia? Semua perusahaan berlomba-lomba membuat bumbunya sendiri seperti Indofood, Sasa, Royco, dan lainnya. Belum lagi bumbu yang dibuat secara artisanal oleh UKM-UKM di daerah. Dan atas dasar apa Pak William Wongso mempromosikan salah satu bumbu dan dibawa ke luar negeri dan dipakai di berbagai demo masakan beliau atas nama promosi makanan Indonesia?,” paparnya. Jika demikian, lanjutnya semua orang di luar negeri hanya tahu bumbu yang dibawa William Wongso, dan bumbu-bumbu yang lain tidak dipromosikan?.

“Buat saya ini tidak fair play untuk kemajuan ekonomi Indonesia.
Jadi saya melihat disini adanya hal yang tidak jelas lewat pernyataan beliau yang bisa membingungkan orang dan menyesatkan promosi Indonesia di luar negeri. Saat ini jalur rempah kita masih belum dikenal, makanan Indonesia belum banyak yang tahu, dan kalau caranya kita mempromosikan Indonesia seperti ini, bisa kacau karena tidak fokus dan bercabang-cabang. Kalau kita mau produksi rempah-rempah, ya kita fokus produksi rempah-rempah, dengan sejarah jalur rempah yang disebutkan oleh mas Fadly Rahman, dan kita bawa bersama-sama menuju ke UNESCO dengan memperlihatkan keaslian dan kekayaan rempah-rempah Indonesia. Rempah-rempah fresh bisa diolah jadi bubuk tapi tetap sama hanya bentuknya berbeda. Pala fresh bisa jadi pala bubuk, dan ahli kuliner dunia dan Chef-Chef akan lebih menghargai ini dan kita akan lebih gampang mengangkat Jalur Rempah Indonesia ke dunia international. Kalau kita mau jualan bumbu Indonesia, ini berbeda dan tidak salah tapi sama sekali tidak ada hubungan dengan promosi rempah-rempah dan makanan Indonesia. Dan jangan sekali-sekali membuat demo Cooking internasional di depan Chef-Chef internasional dengan bumbu instan, mereka akan mentertawakan kita. Kecuali, bumbu yang dibuat itu adalah bumbu artisanal tanpa bahan kimia dan alami dan dibuat secara tradisi, ini bisa diargumentasikan. Dan itupun untuk bumbu jadi, semua chef prefer untuk membuat sendiri di depan mereka. Tetapi sebelum dunia tahu tentang bumbu kita mereka harus tahu bahan-bahan mentah dan resep masakan membuat makanan Indonesia. Salah satu promosi kami juga menaruh resep-resep makanan Indonesia di media sosial kami di Perancis dan menaruh bahan-bahan. Tentu saja tidak mungkin kan saya taruh resep soto ayam dan saya bilang pake bumbu instan begitu saja,” terangnya. (Gabriel Bobby)
 

Share